Sandiwara-Sandiwara Pendidikan

Sudah sekitar satu semester lebih covid-19 menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Bila dia adalah seorang sutradara maka sudah banyak sekali drama-drama hidup yang diproduksinya. Drama yang bergenre ekonomi, politik, sosial yang haru dan mirisnya melebihi haru drama media mainstream. Bahkan tidak jarang drama itu begitu kompleks sehingga sulit ditebak arah dan alur endingnya.

Pendidikan adalah dunia yang tidak luput dari jamahan covid-19. Beberapa hari yang lalu penulis mendengar ada salah satu Kepala Sekolah Swasta ternama di Jakarta yang positif terkena Corona. Walhasil satu keluarganya memasuki masa dan ruang isolasi. Terbaru kita menyaksikan acara ILC  di televisi yang mewajahkan bagaimana para pelaku ekonomi begitu terdampak oleh musibah virus ini. Bahkan Sekda DKI Bapak Saepullah juga meninggal kemarin setelah berjuang melawan Covid-19.

Matinya Lampu-Lampu Kelas Sekolah

Sudah sekian purnama pembelajaran di sekolah tidak berlangsung dengan carat atap muka. Mayoritas sekolah menggunakan model tatap maya dalam pembelajarannya. Hal ini ditempuh agar roda aktifitas sekolah tetap hidup dan jalan. Namun itu juga bagi wilayah atau anak yang memiliki kemampuan ke arah sana. Tidak sedikit wilayah-wilayah di pelosok Indonesia yang belum khusyuk wal khudhu menjalankan pembelajaran ini. Begitupula masih banyak anak-anak usia sekolah yang belum bisa bergabung menikmati pembalajaran via zoom cloud meeting atau video call whats app kendati mereka hidup di kota-kota besar karena faktor ekonomi.

Sebagai penonton atau bahkan sebagai rakyat penulis melihat beberapa pola pengambilan kebijakan yang tumpang tindih dalam pemerintah. Bahkan cenderung terkesan irasional. Di mana pemerintah dan beberapa kepala daerah memberilakukan masa tanggap darurat covid-19 namun beberapa tempat wisata dan hiburan mulai dibuka.  Begitupun juga dengan beberapa pusat perbelanjaan yang mulai kembali ramai dipadati pengunjung. Meskipun semuanya tetap memakai dalih tetap menerapkan protocol kesehatan.

Kebijakan yang irasional atau yang penulis tulis sebagai sandiwara juga merasuk dalam dunia pendidikan. Di mana saat ini banyak peserta didik yang “dipaksa” melakukan Pembelajaran Jarak Jauh. Titik pertama kesan irasonalitas itu terlihat dari pusat perbelanjaan dan wisata sudah yang banyak dipadati pengunjung sudah dibuka tapi lembag-lembaga pendidikan saat ini masih belum mendapat restu untuk di buka. Padahal sekolah cenderung lebih mudah untuk dikondisikan protokolnya ketimbang pusat perbelanjaan dan wisata.

Tapi memang demikian, rasa kecemasan para stakeholder sekolah semakin dibuat menjadi-jadi dengan maraknya pemberitaan sekolah yang menjadi tempat penularan virus corona. Kadang realitas di lapangan, peserta didik dilarang melakukan pembelajaran di sekolah tapi guru dan karyawan tetap melakukan kerja dari sekolah. Atau bahkan justru beberapa peserta didik datang ke sekolah meski sekadar untuk main-main atau memakai lapangan sekolah untuk olahraga dan lain-lain.

Sandiwara pendidikan itu menelan biaya yang tidak sedikit, baik itu lembaga sekolah negeri maupun swasta. Alih-alih biaya bulanan peserta didik diturunkan, justru beberapa sekolah ada yang tetap memberlakukan nominal yang sama atau paling banter hanya se-persekian persen peringanan yang diberikan. Justru para orang tua harus memberi uang jajan ekstra untuk jajan kuota dan lain-lain. Belum lagi oleh anak kuota yang harusnya dipakai pembelajaran habis untuk membuka laman-laman media sosial, tik tok, game online dan sejenisnya.

Lampu-lampu kelas sekolah banyak yang padam, tidak lagi menyala. Baik itu karena alasan efisiensi ataupun karena memang tidak ada aktifitas yang dilakukan di dalamnya. Justru nyala lampu-lampu itu pindah ke tower-tower wisma atlet di Jakarta. Bahkan ke ruang-ruang rumah sakit tempat pasien corona dirujuk.

Pembelajaran Sosial Berskala Besar

Formalitas pembelajaran menjadi demikian, begitulah sabda pemerintah yang mau tidak mau harus ditunaikan. Tapi secara esensi pembelajaran kita tidak bisa membiarkan satu masa generasi melewati masa-masa pendidikan dalam format sandiwara. Ruh dari pendidikan itu harus tetap dihidupkan dan menyala ke relung dan pikir seluruh peserta didik.

Penulis kira situasi ini harus membuat kita bisa sama-sama saling mengerta dan memahami satu sama lain. Kita tidak bisa saling menyalahkan dengan merasa paling banyak berkorban. Sebab bila dilihat secara seksama, guru bukan lantas menjadi malas-malasan dalam mengajar tapi terus berpikir bagaimana caranya menyajikan pembelajaran yang bisa menarik bagi peserta didik. Begitu juga orang tua yang bekerja keras membanting tulang mencari biaya untuk membayar biaya-biaya pendidikannya di sekolah. Begitupun para siswa yang tentunya banyak dari mereka yang berupaya untuk bisa terus mengikuti pembelajaran dengan baik.

Pembelajaran di masa pandemi yang masih belum kunjung usai ini tidak bisa hanya berkutat pada recovery kognitif semata. Namun juga menjadi momen di mana pembelajaran sosial mendapat banyak kesempatan untuk dilatih dan ditumbuh kembangkan. Secara akademik peserta didik mengikuti arahan belajar dari sekolah, namun secara perkembangan sosial mereka mengikuti pembelajaran dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Lingkungan sekitar itu bisa jadi rumah, bisa jadi asrama atau bisa jadi pondok pesantren tempat di mana mereka mengais pembelajaran tentang kehidupan.

 

Related posts