Sebuah Artikel Penambah Nafsu Menulis

Ada orang yang begitu lihai dalam mengolah kata sehingga tidak butuh waktu lama mencipta tulisan. Pemikiran yang terbuntal dalam isi kepala bisa diserat dengan gerakan diksi yang lincah. Sehingga kekuatan dalam setiap paragrafnya mampu menyihir para pembaca untuk bisa begitu terpesona. Setiap kelebatan pikiran, jelmaan anomali, atau realitas apapun yang ada di sekelilingnya dapat dengan mudah disulap menjadi rangkaian paragraf dengan baju fiksi maupun non fiksi.

Namun ada juga orang yang begitu kelimbungan tatkala diminta untuk menulis meskipun itu barang satu paragraf saja. Bahkan ide untuk dituliskan begitu sangat rumit dan menyiksa untuk bisa lekas ditemukan diseratkan. Sekalinya ketemu kadang alurnya timbul tenggelam seperti gambar televisi tahun 90-an saat antenanya tertabrak angin. Sehingga seringnya yang muncul adalah sikap menyerah lekas menyimpan pena dan menutup buku rapat-rapat lalu rebahan dan tidur. Adapula yang melampiaskannya dengan membuka layar-layar PUBG atau Mobile Legend dan game daring lainnya.

Read More

Menulis itu bukan hanya bakat

Menulis itu adalah bakat, seseorang tanpa bakat untuk menulis sulit untuk bisa menjadi penulis profilik yang handal. Segala profesi tanpa bakat tentu sulit untuk bisa secara terampil dilakukan. Yang ada biasanya adalah gerutu dan pengutukan terhadap realitas atas ketidakbecusannya dalam mengerjakan tugasnya itu. Sama halnya seperti para filsuf, Fahruddin Faiz tatkala membabar kitab Fashlu-l-Maqal karya Ibnu Rusyd mengatakan bahwa untuk mempelajari qiyas demosntratif atau filsafatpun harus memiliki bakat, selain piranti-piranti lain yang mendukungnya. Oleh karenanya begitupula dalam alam kepenulisan.

Namun menulis itu juga sekaligus tidak hanya bakat. Dengan latihan yang sungguh-sungguh seseorang bisa menjadi penulis yang baik. Sebab ada pula orang yang memiliki bakat namun kemalasannya telah mengaramkan kemampuan itu karena tidak pernah diasah dan dikembangkan.  Kembali Ibnu Rusyd dalam Fashlu-l-Maqal juga mengatakan bahwa beberapa hal yang menunjang dalam jalan kefilsafatan adalahh adanya kecerdasan alamiah (bakat), keberadaan guru-guru yang membimbing, telaten dalam mepelajari sesuai dengan tahapan-tahapannya serta tidak kalah oleh badai nafsu atau kemalasan yang bisa membuat ia terlempar ke luar jalur. Begitu pula dalam alam kepenulisan, selain karena ada bakat atau kecerdasan alamiah, modal kepenulisan juga bisa melalui bimbingan guru, keuletan untuk meningkatkan kualitas dengan terus menulis serta menjauhkan diri dari berbagai bujuk rayu kemalasan.

Dari Dee Lestari sampai al-Jauzi

Dalam paparan awal yang diketengahkan oleh Dee Lestari dalam kitab novel Filosofi Kopi, ia mengatakan bahwa kesibukan utamanya sebenarnya adalah bermusik. Namun Ketika inspirasi menulis itu datang tiba-tiba dengan begitu deras dan kuat, ia langsung mulai menulis dan membiarkan jemari-jemarinya mengetik mentranslasi imajinasinya. Keadaan yang demikian tidak dirubah menjadi formal oleh Dee, namun tetap dibiarkan mengalir secara alamiah.

Keadaan seorang Dee yang juga sang pencipta kitab novel Supernova itu, terjadi pula jauh pada ulama tempo dulu bernama Ibnu al-Jauzi. Meskipun dalam genre dan tema yang jelas sangat berbeda namun tetap dalam fenomena inti yang serupa. Dalam preambule kitab Shaid al-Khathir, Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa tatkala ia membiarkan pikirannya berselancar menyelidiki berbagai fenomena yang muncul di hadapannya namun tidak dibarengi dengan menuliskan hasil aktifitas perselancarannya itu maka hasil yang dimaksud itu pun pergi dengan kesia-siaan. Dari sini Ibnu al-Jauzi menajtuhkan sabda bahwa aktifitas menulis adalah aktifitas yang terpuji dengan unsur makna yang penuh.

Barangkali kita kerap atau minimal pernah berada dalam keadaan yang dialami oleh seorang ulama agung Ibnu al-Jauzi atau seorang novelis Dee Lestari. Sebuah gagasan atau Hasrat yang tetiba saja datang dan begitu memikat untuk mengajak kita menulis. Ada yang langsung menyambut seruan itu dengan lantas duduk tenang menulis namun ada juga yang menyambut seruan itu dengan penundaan waktu disertai berbagai argumentasi pembenaran yang dialamatkan pada diri sendiri. Segera atau tidak sebenarnya tidak jadi soal, yang penting jangan sampai api semangat menulis itu padam, terlebih sebelum ide atau gagasan yang berharga itu lenyap dari alam pikiran karena tertimbun berbagai kenangan mantan dan elegi cinta yang tak kesampaian.

Al-Istifadah bil-Menulis

Dalam novel Tapak Sabda yang dianggit oleh Fauz Noor ia menulis bahwa berbahagialah mereka orang yang dapat menulis buku, mereka (para penulis buku) selalu mendapat doa dari para penulisnya. Kalam ini didapat oleh Kang Fauz dari salah gurunya yang bernama K.H. Ahmad Tajuddin, seorang ulama besar di Tasikmalaya, Jawa Barat.  Saat ini novel Tapak Sabda yang ditulis oleh sastrawan pesantren Tasik itu menjadi jabaran filsafat Islam populer di Indonesia. Ia berhasil mengadopsi metode Jostein Gaarrder yang menulis novel Sophi’s World dalam membabar filsafat, di mana Gaarder mengurai filsafat Barat dalam novelnya sedangkan Kang Fauz membabar filsafat Islam dalam karyanya. Baginya lewat jalan inilah ia mencari fadhilah atau values hidup untuk bisa ditransmisikan juga pada manusia lain.

Mantra dengan daya pikat paling kuat lain di antaranya adalah dawuh-dawuh yang diketengahkan oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam tertralogi Bumi Manusia. Lewat sosok Kartini, Pram mendawuhkan bahwa mengarang (menulis) adalah tugas untuk keabadian. Sedang lewat Nyai Ontosoroh ketika berbicara pada sosok Minke, Pram mengatakan bahwa karena menulislah seseorang itu akan abadi dan oleh karenanya Nyai Ontosoroh begitu sayang pada Minke, menantunya itu.

Sayang kedigdayaan tetralogi Bumi Manusia sempat diguncang oleh visualisasi filmnya beberapa bulan lalu. Guncangan itu lebih ternilai sebagai sebuah reduksi semangat perjuangan yang menjadi urat nadi kesaktian kalam Pramoedya dalam novel tersebut. Singkat kata, untuk menyelami alam pemikiran dan emosi Bumi Manusia mending baca langsung novelnya dengan khusyu’ wal khudhu’. Sebuah alam pemikiran di mana dunia kepenulisan menjadi bagian senjata dalam memperjuangkan peradaban dan kemanusiaan serta kemerdekaan. Sebuah senjata untuk melawan berbagai penindasan dan pengkerdilan keluhuran derajat kemanusiaan.

Terakhir penulis hendak mengatakan bahwa menulis adalah tradisi yang terus diwariskan oleh para ulama-ulama salafu-s-shaleh terdahulu dari generasi ke generasi. Seiapapun dari kita, dengan menulis berarti kita telah mengikuti jejak paraa generasi luhur terdahulu. Terlebih menulis karya dengan values yang banyak dan berkualitas sehingga sangat terasa manfaatnya untuk peradaban kemanusiaan dan kehidupan.

Menulis memang tidak secepat kita menyeduh pop mie dengan air panas seperti yang ada di rumah atau di pedagang asongan terminal. Tapi ia butuh proses yang tidak instan, sama halnya seperti seorang petani yang menanam padi dengan jangka waktu berbulan-bulan dengan bermodalkan ketekunan dan kesabaran dengan tetap apik dan konsisten merawat seluruh tanamannya. Kesadaran inilah yang mampu menumbuhkan nafsu untuk menulis, bukan dengan banyak minum jamu penambah nafsu ini itu.

 

Related posts