Sejarah Singkat Tentang Orientalisme, Kolonialisme, dan Missionarisme

  • Whatsapp

Sejarah merupakan salah satu kajian pengetahuan yang membahas tentang berbagai kejadian di masa lalu. Yang dimana, kejadian tersebut memiliki jejak-jejak atau peninggalan sejarah yang bisa dibuktikan oleh berbagai peneliti untuk meneliti suatu tempat.

Salah satunya adalah pada pembahasan dalam artikel singkat ini, berupa orientalisme, kolonialisme, dan missionarisme – dari pembahasannya tentang pengertian hingga pada sejarah singkat antara ketiga pembahasannya tersebut.

Bacaan Lainnya

Orientalisme

Orientalisme merupakan suatu pelajaran tentang suatu hal berupa seseorang yang mempelajari dunia ketimuran, terutama pada ajaran Agama Islam. Adapun yang dimaksud dengan dunia ketimuran ini adalah, pada bagian dunia belahan Timur yang diantaranya bagian daerah Timur Dekat (Wilayah Turki dan sekitarnya) hingga pada belahan Timur Jauh (Termasuk wilayah Asia seperti halnya Jepang, Korea, Cina) dan juga wilayah Muslim yang bekas Uni Soviet, serta kawasan Timur Tengah hingga Afrika (Mustholah Maufur, 1995:11)

Sedangkan menurut bahasa umumnya yang kita kenali, Orientalisme ini merupakan suatu pemahaman akan orang-orang barat yang mempelajari tentang Agama Islam. Istilah ini ditambahi dengan kata isme di dalamnya, secara Bahasa Inggrisnya adalah “A doctrine, theory, or system” yang dianggap mengancam dunia Barat dari segi manapun itu (Mustholah Maufur, 1995:11-12).

Biasanya, istilah tersebut muncul pada Abad Pertengahan, yang dimana gejolaknya Perang Salib antara orang Muslim dengan Orang Nasrani pada waktu itu. Salah satu tokoh Orientalisme yang terkenal di Indonesia adalah Snouck Hourgenje pada Era Kolonialisme Belanda.

Menurut Edward Said, pengarang buku Orientalism, orientalisme merupakan kajian atau metode Barat yang berupaya untuk mencaplok Bangsa Timur, dengan cara berpura-pura untuk memperbaiki dan memajukan politik ataupun pemikiran, demi bertujuan untuk memperlancar kekuasaannya disana (A. Abdul Hamid Ghurab, Terj. A. M. Basalamah, 1992: 20).

Bagaimana sejarahnya orientalisme ini berasal atau ada? Orientalisme ini hadir atau ada semenjak pada Abad Pertengahan dan biasanya dikenal dengan Abad Kegelapan. Yang dimana, zaman tersebut gelap-gelapnya dataran Eropa pada abad tersebut. Dan tidak terlepas dari response orang-orang Eropa akan Islam berupa rasa kekaguman akan dunia Islam yang dimana memiliki kemajuan yang sangat cepat dan memungkinkan akan adanya ancaman tersendiri bagi Eropa, baik secara aqidah, peradaban, serta secara kekuatan militer. Atas hal tersebut, terciptanya suatu rasa ketakutan tersendiri akan dunia Islam dikarenakan rasa ketidaktahuan dan adanya rasa dengki terhadap Islam yang telah menyelimuti bangsa Eropa semenjak pada Abad Pertengahan, sehingga terbentuknya berbagai gambaran yang tidak menyenangkan akan Islam. Keadaan seperti demikian hingga dewasa ini. bahkan pada masa dewasa ini, orang-orang Eropa memiliki gambaran yang mengerikan dan dijadikan sebagai senjata bagi para kaum orientalis untuk lebih laju pergerakannya, yang di bantu oleh media masa Barat hingga sekarang (A. Abdul Hamid Ghurab, Terj. A. M. Basalamah, 1992: 47-48).

Hal ini sudah digambarkan oleh salah satu Orientalis kondang bernama Montgmery Watt yang diungkapkan dalam bukunya yang berjudul Islam and Christian Today mengatakan bahwasanya “Sesungguhnya aqidah ajaran Islam terdiri dari bentuk penyimpangan dari ajaran Kristen. Islam adalah sebuah agama yang ganas dan tersebar melalui pedang. Agama Islam mengajak manusia agar menyibukkan diri dalam dunia nafsu, terutama nafsu seksual. Dan dalam pribadi Muhammad sendiri terdapat kelemahan akhlaq (maksudnya adalah dalam menghadapi wanita dimana beliau menikahi banyak wanita). Yang artinya adalah, Muhammad adalah pendiri agama yang menyimpang. Karena itulah, hendaknya dijadikan prinsip bahwasanya Muhammad adalah kaki tangan atau senjatanya setan. Bahkan bangsa Eropa sendiri pemeluk ajaran Masehi pada Abad Pertengahan tersebut menyebut beliau dengan nama syetan.”

Ada dua macam para Orientalis akan gambaran menyeramkan atas Islam sebagaimana berikut:

  1. Mengadakan kesenjangan sehingga Islam tidak dapat tersyiar di Eropa seperti tersyiarnya pada selain bangsa Eropa sendiri.
  2. Menumbuhkan keraguan dalam hati umat Islam terhadap ajaran agamanya, dan berusaha untuk memurtadkan mereka dari ajaran Islam dengan cara Missionarisasi.

Kolonialisme

Kolonialisme ini diambil dari Bahasa Latin yaitu kata Colonus yang artinya Petani. Sedangkan menurut Terminologi, Kolonialisme ini merupakan salah satu penjajahan yang bertujuan untuk menguasai sistem perdagangan disana.

Sebelum dua negara kolonialis ini menjajah maupun menguasai wilayah-wilayah Islam, Prancis dan Inggris mengirimkan beberapa Orientalis untuk mengawasi serta mengamati keadaan di sekitar wilayah tersebut yang memakan dua puluh tahun lamanya. Dari tahapan itulah yang menjadikan cikal bakal sebagai peneliti untuk mengamati benda-benda kuno dan mempelajarinya dan menjadi cendekiawan spionase yang bertujuan untuk membuka jalan bagi Napoleon untuk menyerang Mesir pada tahun 1798.

Tokoh Orientalis yang menjadikan keberhasilan Napoleon untuk menyerang Mesir adalah Silvestor. Dan disamping itu juga telah mempermudah penjajahan Prancis ke wilayah Islam di bagian benua Asia dan Afrika.

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh pihak Inggris, salah satu dari negara Kolonialis di abad ke-19 tersebut mengirimkan sekelompok para Orientalis untuk mengetahui situasi dan keadaannya, seperti Edward Lane, William Johnson, dan sebagainya. Selain Prancis, adapun beberapa negara yang menggunakan cara yang sama yaitu mengirimkan beberapa orang Orientalis dalam melakukan spionase sebelum melakukan penjajahan, seperti halnya negara Inggris yang mengutus seorang Orientalis yang bernama Edward Lane, William John, dan lain sebagainya.

Maka tidak heran, jika pergerakan mereka itu muncul di berbagai Lembaga, organisasi kejuruan, kelompok study menerbitkan majalah dan bulletin yang memuat pemikiran dan hasil penelitian yang mereka sebut sebagai “ilmiah” (A. Abdul Hamid Ghurab, Terj. A. M. Basalamah, 1992:73-74).

Missionarisme

Orientalisme dan Missionarisme ini hampir sama entah dari definisinya maupun pengertiannya. Keduanya tersebut dimaknai sebagai salah satu penyebaran ajaran agama, kalau Missionarisme ini salah satu mission atau misi untuk melakukan Kristenisasi di wilayah-wilayah, terutama pada wilayah Islam (A. Abdul Hamid Ghurab, Terj. A. M. Basalamah, 1992:83) dan (Mustholah Maufur, 1995:16-17)

Sebenarnya antara Orientalis dengan Missionaris memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menghancurkan peradaban Islam di dunia. Akan tetapi, yang membedakan disini adalah para Orientalis ini berpura-pura mempelajari, mengamati, dan membantu orang-orang Islam dari segi apapun dari dalam. Sedangkan, Missionaris ini terang-terangan menyebarkan ajaran Kristen di wilayah-wilayah Islam secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Dengan gerakan penyimpangnnya itulah, mereka mulai melangkah lebih jauh kepada berbagai rencana yang tersusun rapi secara bertahap. Adapun berbagai metode yang digunakan adalah mengganti pola pikir Islam, yang dimana kaum muslimin dan muslimah diubah pola pikirannya dengan ajaran-ajaran Kristen oleh para Missionaris ini. bisa dikatakan sebagai “Gerakan Pemurtadan”.

Adapun dalam sejarah missionarisme ini, yaitu salah satu tokoh terkenal yang bernama Peter. Ia merupakan seorang pemuka agama Masehi yang sangat mahsyur permusuhannya terhadap Islam di Benua Eropa pada era Abad Pertengahan. Ia meninggal pada tahun 1156 M.

Ia dikenal dalam tulisan sejarah karena ia sangat gigih dan telah melaksanakan tugasnya sebagai seorang orientalis dan missionaris dan juga sebagai seseorang yang sangat berbahaya dan berwibawa. Pada tahun 1085 M, Tolido sudah ditaklukkan oleh kaum Nasrani. dengan segenap tenaga yang tersisa, mereka mengumpulkan dan membentuk sebuah Gerakan salib yang sangat kuat untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin di Andalusia. Gerakan itu berpusat di Cluny dan dibawah kekuasaan pendeta Pondektion, dan juga dipimpin langsung oleh Peter the Venerable.

Kemudian dalam perjalanannya, Peter sudah pergi ke Spanyol sebanyak dua kali dan memutuskan untuk membantu lebih banyak untuk mengajarkan ajaran Masehi tersebut. Bantuan tersebut berupa menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Eropa terutama Bahasa Spanyol untuk pertama kalinya. Dan pada tahun yang sama (sekitar pada tahun 1141 M), ia mendirikan perkumpulan penerjemah Al-Qur’an di Tolido sekaligus sebagai markasnya.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwasanya usaha mereka untuk menerjemahkan Al-Qur’an itu memiliki niatan yang sangat keji. Yakni menyimpangkan makna Qur’an, memusuhi dan mejelekkan citra Islam. Serta mengubah potret atau pandangan Islam dari bentuk orisinilnya, dan juga berusaha untuk memurtadkan kaum Muslimin menjadi penganut Nasrani (A. Abdul Hamid Ghurab, Terj. A. M. Basalamah, 1992:88-90).

Penutup

Bisa diambil kesimpulan, bahwsanya orientalisme, kolonialisme, dan missionarisme ini memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin menghancurkan peradaban Islam dengan berbagai cara sebagaimana yang sudah dituliskan pada pembahasan kali ini.

Demikian pembahasan artikel yang sudah dijelaskan kali ini. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan baik kata-kata yang kurang pantas untuk dibaca maupun kesalahan pada letak tulisan yang mungkin masih acapkali ditemukan. Semoga pada artikel ini bisa diambil pelajaran agar tidak sepenuhnya percaya 100% pada orang-orang Orientalis. Karena, orang-orang Orientalis itu tidak sebenarnya salah maupun benar, kecuali memiliki niatan tersembunyi untuk menghancurkan Islam, seperti halnya kolonialis dan juga missionaris.

Pos terkait

1 Komentar

Komentar ditutup.