Selamat Datang Tahun Politik

Selamat datang tahun politik 2024
Selamat datang tahun politik 2024

Selamat datang tahun politik. Sujiwo Tedjo telah memaklumatkan dalam salah satu unggahan media sosialnya, bahwa derap langkah perjalanan waktu ini telah masuk pada tahun-tahun politik. Presiden Jancukers tersebut menuliskan “Selamat memasuki tahun-tahun Pilpres, tahun-tahun saling mencemooh, saling ungkit dan saling baku hujat”.

Tulisan Mbah Tejo itu tampaknya menjadi cermin dari realitas saat ini yang memang mulai masuk pada dentang-dentang pilihan pemimpin negeri. Fakta kalkulatif saat ini menunjukkan bahwa sebelum gelaran Pilpres dimulai, beberapa lapisan struktural pemerintah lebih dahulu mengadakan hajatan demokrasi tersebut.

Read More

Sebut saja misalnya hajat gelaran demokrasi yang saat ini tengah ramai disiapkan oleh masyarakat lapisan desa. Beberapa desa di wilayah Indonesia saat ini tengah bersiap menyelenggarakan Pilkades serentak pada tanggal 27 Mei 2023. Kesibukan yang menyertainya terlihat pada panitia-panitia penyelenggara, tim sukses sampai dengan para calon yang tengah rajin-rajinnya bergerilya mendulang suara.

Biaya pendaftaran calon Kepala Desa yang tidak menjulang seperti tahun kemarin menjadi salah satu pemantik suburnya kuantitas peserta Pilkades. Walhasil, banyak baliho-baliho dan spanduk politik para kandidat yang menempel di muka-muka pagar rumah atau di badan-badan jalan.

Bagi saya, iklim perpolitikan yang terjadi dalam skala desa tersebut adalah cerminan dari ekskalasi yang juga tengah terjadi dalam skala elit nasional. Pemberitaan perihal para tokoh-tokoh politik besar negeri ini tidak pernah sepi dari peliputan media.

Panorama Akrobatik Politikus

Muhaimin Iskandar misalnya, hari ini tengah melangsungkan pertemuan dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Tema bingkainya adalah permohonan nasihat akan pembentukan koalisi besar. Sebelumnya, figur yang kerap dipanggil Cak Imin itu juga telah melakukan lawatan ke Mantan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono di Cikeas.

Berbeda dengan Cak Imin, Ganjar Pranowo tengah melakukan safari politik ke Surabaya, Jawa Timur. Di antara agenda politiknya di sana, Ganjar meresmikan posko relawan yang menjadi tim sukses pencapresannya. Ia juga berkunjung ke Pondok Pesantren al-Nuriyah Surabaya.

Sedangkan Anies Baswedan tengah santer dikabarkan memilah beberapa nama cawapres yang akan mendampinginya bersama Koalisi Perubahan. Luhut Binsar Pandjaitan dikabarkan telah memberikan nama sebagai endorse cawapres kepada Surya Paloh yang menjadi aktor belakang panggung Anies.

Tiga nama di atas adalah contoh dari pergerakan-pergerakan yang tengah dilakukan oleh elit-elit politik saat ini. Tentu masih banyak aktor-aktor politik lain yang tengah melakukan pergerakan yang sama, atau bahkan mungkin lebih tendesius dan lebih berambisi daripada ketiganya.

Repotnya adalah bila oknum lapisan-lapisan relawan dan tim sukses yang bergerak secara arogan. Ia menjagokan pilihannya dan melayangkan berbagai kekurangan bahkan fitnah pada orang-orang tentang kandidat lainnya. Perilaku tersebut tak jarang membuat iklim perpolitikan menjadi memanas dan rawan akan konflik yang pecah. Meletusnya konflik kerap mendatangkan awan mendung bagi kerukunan yang telah dipintal bertahun-tahun. Menyebarkan ancaman bagi kedamaian yang selama ini telah dipupuk dan dijaga dengan begitu apik.

Mempertahankan Nalar Kewarasan

Situasi politik saat ini di sekitar kita kerap menyita energi yang tidak sedikit, baik itu dalam kapasitas aktor kontestan atau dalam aktor penyimak. Saking kuatnya energi tersebut kerap memantik badai pengahancur yang mendestruksi ekosistem social. Di sinilah setiap kubu atau elemen masyarakat mesti berhati-hati.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sosok yang dapat dijadikan teladan dalam persoalan ini. Beliau adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dengan pengetahuan yang mendalam bahkan menjadi salah satu ahli hadits paling masyhur dalam sejarah pengetahuan Islam generasi awal. Tidak luput, beliau juga adalah putra dari Amir al-Mu’minin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi dengan reputasi religiusitas yang sangat tinggi.

Di tengah iklim politik yang gonjang-ganjing pada masa awal Dinasti Umayyah, pasca khatamnya periode Khulafa al-Rasyidin, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu tetap konsisten tidak bergeming dan hanyut dalam huru hara politik. Kendati banyak pihak yang datang kepada beliau dan melayangkan lamaran bahkan sampai memprovokasi untuk naik merebut tahta pimpinan tertinggi umat Islam.

Namun Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu senantiasa memberikan syarat yang sangat politis pada pihak-pihak yang kerap berperan sebagai sponsor politiknya tersebut. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu mensyaratkan bahwa pengangkatannya sebagai pimpinan bila hendak diusung memang benar-benar disepakati oleh seluruh umat muslim dan tidak atas pertumpahan darah barang setetes pun.

Dua prinsip tersebut jelas sangat sulit untuk dipenuhi oleh pihak sponsor politik manapun. Oleh karenanya, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu lebih banyak membuka halaqoh keilmuan dan menjadi seorang “guru” di tengah-tengah kalangan umat Islam. Menurut catatan Nurcholish Madjid, beliau menjadi salah satu pelopor dalam lahirnya kelompok ahl al-sunnah wa al-jama’ah.

Ringkasnya, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu tidak hendak mengajarkan kita untuk menjauhi politik, tapi ada satu kondisi di mana kita memang harus membuat batas dan member jarak agar tidak larut dan laput dalam pusaran politik. Lebih dari itu, mereka yang memiliki pengetahuan dan tercerahkan lebih dibebani tanggungjawab untuk membimbing masyarakat agar tidak habis diterkam taring-taring kebusukan politik praktis dan perebutan kekuasaan.

Related posts