Semangat Khatam Al-quran Sejak Balita ala Ustazah Sarmini

Setiap orangtua pasti memiliki cita-cita untuk kebaikan buah hatinya, baik aspek kehidupan di dunia, maupun kehidupan di akhirat. Salah satu cita-cita mulia mereka adalah memiliki anak yang mampu membaca al-quran dengan fasih, bahkan menjadi seorang penghafal al-quran. Salah satu buku referensi yang membahas cara bagaimana mengajarkan al-quran sejak dini dan mengkhatamkannya adalah buku yang ditulis oleh ustazah Sarmini 6 tahun silam yang berangkat dari pengalaman pribadinya dalam mengantarkan anak-anaknya khatam sejak usia batita.

Berikut kiat-kiat yang bisa dicoba untuk terapkan buah hati di rumah demi mewujudkan cita-cita mulia tersebut;

  1. Niat dan azzam (kemauan), sebagaimana pepatah Arab Idzā shadaqal ‘azmu wadhaha as-sabīl yang bermakna ‘jika ada kemauan, pasti ada jalan. Hal tersebut juga berlaku dalam hal ini yaitu niat serta kemauan kuat dari kedua belah pihak, baik anak maupun orangtua. Sebab, kedua hal tersebut merupakan syarat mutlak untuk mengawali misi besar dalam upaya mengajarkan al-quran dan mengkhatamkannya sejak anak balita. Misi besar mustahil tercapai tanpa adanya aplikasi dari dua syarat mutlak ini dalam proses pelaksanaannya.
  2. Konsisten atau Sebuah misi mulia tidak cukup ditopang dengan niat dan azzam (kemauan) yang kuat. Akan tetapi, dalam proses mengajarkan al-quran dan mengkhatamkannya sejak anak balita butuh sikap yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Merenungkan motivasi luhur yang merujuk pada sabda nabi Muhammad SAW, “Didiklah anak-anak kalian 3 perkara: cinta nabinya, cinta ahlul bait, dan cinta membaca al-quran” (HR: Ad-Dailamy). Nabi bersabda demikian bukan lah tanpa sebab, penelitian modern membuktikan bahwa pengajaran yang diberikan saat usia dini bak mengukir di atas batu; yang mana akan tertancap kuat dalam alam bawah sadar anak dan terbawa hingga usia dewasa. Oleh karena itu, untuk membuat anak cinta al-qur’an harus dimulai pendidikannya sedini mungkin diawali dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap al-qur’an.
  4. Buatlah tim yang kompak dengan penghuni rumah dan jadikan al-quran sebagai kampanye utama setiap waktu. Karena lingkungan merupakan faktor utama terbentuknya seseorang, maka dari itu penghuni rumah seluruhnya harus kompak dalam menanamkan cinta al-qur’an kepada penghuni rumah lainnya.
  5. Jadikanlah kesuksesan anak dalam al-quran sebagai prioritas utama dan berikan apresiasi lebih dari hal lain, misalnya; mengadakan acara tasyakuran jika anak khatam membaca al-quran. Hal ini akan membuat anak merasa usahanya dihargai sehingga diharapkan menjadi lebih semangat lagi dalam membaca al-qur’an.
  6. Menjadi generasi Utrujjah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis nabi ….”perumpamaan orang muslim yang membaca al-quran bagaikan buah utrujjah, baunya harum dan rasanya enak”. Oleh sebab itu, anak harus diajari membaca al-qur’an dengan benar dan diajarkan isi kandungan al-qur’an untuk diamalkan secara bertahap.
  7. Gunakan konsep pembelajaran yang bertahap dan mulai dari yang paling mudah, misalnya; memilih huruf-huruf yang berharakat fathah terlebih dahulu sebelum kasrah, sebab fathah lebih mudah. Demikian pula masalah waktu, hendaknya tidak terlalu padat hingga menyebabkan anak menjadi bosan.
  8. Memilih huruf yang paling mudah untuk dilafalkan, misalnya huruf-huruf yang memiliki padanan dengan bunyi abjad bahasa Indonesia يَ لَ كَ meskipun huruf-huruf ini berada di urutan terakhir. Mengakhirkan huruf-huruf yang berpeluang susah, misalnya huruf-huruf yang tidak memiliki padanan dengan bunyi abjad bahasa Indonesia صَ ضَ طَ ظَ dan lain sebagainya.
  9. Memudahkan aspek yang sulit. Dalam proses pembelajaran membaca al-quran pasti anak-anak akan mendapat tantangan, dan setiap anak memiliki tantangan serta gaya belajar yang berbeda satu dengan yang lain. Kunci menghadapi tantangan ini adalah kesabaran dan kesungguhan dalam menemani proses belajar mereka sampai bisa membaca dengan baik dan benar. Perlu diingat proses belajar seorang anak tidak ada ada yang kilat.
  10. Menyenangkan aspek yang sulit. Dalam pembelajaran apapun, pasti ditemukan bagian yang lebih sulit dibanding dengan materi yang lain, misalnya pelafalan Lafdhul Jalalah yang mana sebagaian besar anak-anak butuh ekstra tenaga dan waktu dalam mempelajarinya. Adapun tugas kita sebagai orangtua dan sekaligus pengajar mereka di rumah membuat mereka tetap merasa nyaman, menjaga semangat, memberi apresiasi dan pastinya tidak gampang menyalahkan anak.
  11. Jangan fokus pada hasil, tapi hargai proses anak dalam belajar al-quran. Membersamai buah hati dalam belajar membaca al-quran sejak dini merupakan perjalanan panjang dan membutuhkan ketelatenan. Tugas membersamai bukan berarti berfokus pada hasil saja, akan tetapi yang lebih penting adalah menghargai proses mereka dalam upaya anak mempelajari al-quran mulai dasar sampai mereka fasih membacanya. Tujuan yang lebih penting dari hal tersebut di atas adalah bagaimana menjadikan buah hati kita memiliki rasa cinta yang kuat terhadap al-quran dan menjadikannya sebagai teman hidup sejati serta bekal dalam menjalani kehidupan.

Related posts