Sempat Booming, Dua Jalur Pendidikan “Kids Jaman Now” yang Hilang Arah

Frasa “kids jaman now” yang sempat booming beberapa waktu lalu, sebuah dalih glorifikasi anak-anak remaja untuk berbuat “semau gue”. Medsos menjadi ensiklopedi aneka bentuk “semau gue” generasi sesat pikir.

Salah satu yang paling khas dan paling absurd dari kelakuan mereka ada di facebook. Silahkan ketik di search engine facebook “kids zaman now” akan banyak postingan tingkah perangai menggemaskan sekaligus memuakkan dari anak kecil yang seragam sekolahnya saja masih merah-putih.

Narasi “kids jaman now” menjadi pemakluman dari kegagalan sebagian anak untuk menjadi generasi milenial yang sehat. Era teknologi yang sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkaya literasi justru secara berlebihan digunakan untuk posting ke-absurd-an tingkah mereka.

Generasi milenial yang ditaksir menjadi pemimpin masa depan justru menampilkan sikap konsumsi kedewasaan sebelum waktunya sehingga tampak tak beretika. Jika berupa hal positif tak masalah, akan halnya jika sebaliknya. Meskipun di dunia ini tampaknya memang kebaikan dan keburukan saling memilin berkelindan peluk-memeluk satu dengan lainnya, namun perilaku buruk perlu diingatkan untuk diperbaiki.

Generasi milenial patut dididik secara tepat sesuai tuntutan zamannya. Kerangka kecakapanpun perlu dimiliki agar tak tertinggal oleh laju peradaban dunia, alih-alih glorifikasi berlebihan di dalam ruang medsos. Generasi yang lahir dan tumbuh di abad 21 paling tidak harus memenuhi dua jalur penggemblengan: jalur akademik dan jalur suluk.

Jalur pertama digunakan untuk memastikan mereka menjadi generasi berkompeten yang siap memimpin kehidupannya. Sementara jalur kedua memastikan kekayaan spiritual bagi tatakrama kehidupan antar mahluk maupun dengan Sang Pencipta.

Jalur pertama menurut framework P21 abad 21 terdiri dari empat kemampuan utama, yakni kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, komunikasi, kolaborasi, kreativitas dan inovasi. Keempatnya yang kemudian diturunkan menjadi banyak bentuk praktik kehidupan yang disesuaikan jenjang pendidikan.

Jalur kedua terbentuk dari latihan disiplin sufistik (suluk) yang disesuaikan dengan tingkatan usia dan jenjang pendidikan. Bagaimanapun tata krama sufistik diperlukan pada saat kondisi kehidupan dipenuhi syak wasangka dan sikap berlebih-lebihan. Tentu saja diperlukan pembimbing husus yang menjadi pemantau.

Nilai luhur sufistik yang perlu dihayati generasi saat ini menurut Javad Nurbakhsh yaitu pemahaman kesatuan wujud, cinta Tuhan, seruan menyembah Tuhan, keterlibatan dalam suatu pekerjaan, menghindari kemalasan dan pengangguran, pelayanan kepada sesama dan mencintai umat, kesopanan spiritual, toleransi agama, kebebasan, kedermawanan, dan pelepasan diri dari dunia, sikap baik kepada binatang.

Meski keduanya masih berdiam pada ranah konseptual. Namun tugas kita bersama-sama menurunkannya menuju dimensi praktik, terutama para guru. Keduanya secara ideal perlu ditanamkan kepada generasi milenial yang mendeklarasikan diri sebagai kids zaman now agar tak kehilangan arah dan berlama-lama mabuk gawai dan media sosial.

Related posts