Setelah Menikah Lahirlah Berkah Berlimpah

Menikah sebagai upaya menjaga diri dari jurang perzinahan. Islam mensyaratkan pernikahan bukan semata untuk kebaikan sepasang suami istri, tapi lebih luas lagi untuk menjaga tata norma masyarakat agar tetap abadi dalam kebaikan. Tujuan pokok pernikahan secara normatif tertuang dalam surat Arrum ayat 21, memperoleh keluarga harmonis dan sejahtera, dalam bahasa Agama disebut sakinah.

Pada kondisi saat ini, prilaku amoral semakin merajalela dan massif pada berbagai lini kehidupan. Bukan mustahil jika dibiarkan tanpa upaya perbaikan akan mampu menyerang semua aspek kehidupan sehingga semakin sulit untuk diperbaiki. Termasuk sisi pergaulan masyarakat yang terkesan semakin liar dan di luar kendali. ini cukup memukul kita, sehingga memerlukan pencegahan dan penanganan secepatnya. Maka pada waktu yang sama, Islam memberi solusi dengan pernikahan.

Salah Satu Ikatan Kemanusiaan

Upaya ini jelas-jelas telah sesuai dengan kebutuhan dasar manusia, terlebih kebutuhan biologis yang mesti dijalurkan dengan cara yang baik dan sehat. Sekali lagi, Islam sebagai agama kemanusiaan hadir menjawab itu, pernikahan mampu menyatukan manusia yang berlawanan jenis dalam ikatan yang sah dan kuat secara agama dan negara, ikatan itu tiada lain adalah pernikahan, bukan pacaran!

Sejauh mata memandang akan realitas alam semesta ini, maka kita akan mengamini bahwa syariat Islam yang digariskan dalam al-Quran dan hadits tidak pernah bersilang pendapat dengan kodrat manusia. Kendati pun sementara manusia ada yang menolaknya. Dengan menikah, maka secara langsung kita telah membantu merawat stabilitas ekosistem manusia dalam membina kesalehan global.

Fungsi utama keluarga dalam Islam, paling tidak untuk mewujudkan keluarga harmonis, mencipta keturunan sholeh-sholehah juga sejahtera dalam berbagai lini kehidupan, cita-cita ini mustahil diperoleh jika sepasang manusia menempuh -pacaran- cara yang tidak dibenarkan syariat. Kesalehan global sejatinya sebuah cita-cita luhur Islam yang mesti diwujudkan setiap muslim, sikap dan ucapan muslim hendaknya mampu mengkristal dalam wujud kebaikan untuk sesama manusia di seluruh belahan dunia, hal ini mesti dimulai dari cara membina rumah tangga.

Membangun Rumah Tangga

Dalam konstruksi rumah, maka pondasi menjadi prasyarat utama sebelum membangun bagian yang lain, mesti kokoh dan terpatri dengan kuat. Hal serupa juga terjadi pada bangunan kecil bernama rumah tangga, paling tidak suami istri harus menjadi pigur yang ideal bagi anak dan menjadi teladan pada semua lini kehidupan, karena kepada siapa lagi anak meniru tentu yang paling dekat kepada orang tuanya.

Penanaman nilai religi anak perlu dilatih sejak dini, anak mesti diajarkan dan dicontohkan pola hidup yang santun, sederhana dan berintegritas tinggi. Anak cenderung meniru prilaku orang terdekatnya setiap hari, bahkan dapat menjadi karakter hingga anak dewasa. Sungguh luar dampak penanaman sikap ini, bahkan dalam falsafah Jepang dikenal keizen, paling tidak maksudnya, keizen adalah pembiasaan hal-hal positif yang dilakukan secara rutin dan telah mengakar pada budaya sehingga menjadi rutinitas yang terus berlangsung.

Dalam upaya membangun pribadi muslim seorang anak, paling tidak orang tua mesti bertindak sebagai aktor atau aktris amal sholeh bagi anak, sekaligus motivator untuk terus mengajak dan memberi reward dan punishment, memberi penghargaan dan hukuman. Dalam faktanya, anak-anak cenderung penurut dan dinamis terhadap orang tua, selagi mereka tidak kehilangan pigur positif pada kedua orangtuanya.

Berdasarkan al-Qur’an

Sebagai afirmasi, bahwa keluarga harmonis adalah harapan semua manusia, dalam bahasa agama dikenal dengan istilah sakinah. Alquran sebagai wahyu Tuhan berusaha memenuhi berbagai kebutuhan manusia, diantaranya kebutuhan biologis. Prosedur yang sah menurut agama adalah dengan pernikahan. Langkah pertama untuk memperoleh predikat keluarga sakinah adalah dengan menempuh pernikahan. Rasanya sulit dicapai keharmonisan ketika memilih jalan perzinahan, prostitusi, pacaran dan bahkan hubungan ‘kumpul kebo’ diantara pasangan. Ini rasanya sangat mustahil terjadi. Sekali lagi, prasyarat mutlak keluarga sakinah harus ditempuh dengan pernikahan.

Berkeluarga bersama al-Quran adalah sebuah kebahagian bagi seorang muslim. Berusaha membaca, mengkaji dan mengamalkan nilai-nilai al-Quran dalam kehidupan berkeluarga merupakan langkah mendasar dalam melahirkan ketahanan nasional dengan nilai-nilai berbasis wahyu dan bernuasa firman Tuhan, sungguh besar pengaruh penanaman spirit Alquran dalam keluarga untuk menopang ketahanan skala nasional. Bahwa Alquran harus menjadi pendidikan pertama dan utama dalam keluarga, hal ini sejalan denga sabda nabi S.a.w berikut, “Didiklah anak-anakmu dengan tiga hal, cinta Alquran, cinta nabi kalian dan keluarga nabi”.

Mendidik anak mencintai Alquran adalah pola asuh yang harus senantiasa diupayakan oleh seluruh keluarga muslim, anak sejak dini diajarkan cara membaca Alquran secara tartil, diwarnai dengan tajwid dan lagam yang merdu dan indah. Usia emas anak-anak harus diimbangi dengan asupan gizi yang cukup secara fisik dan mental, pun demikian asupan spriritual. Menanamkan nilai-nilai qurani sejak dini adalah sebuah keharusan dan menjadi prioritas pendidikan anak-anak.

 

Related posts