“Silsilatu al lisaan” dalam Pembelajaran Bahasa Arab

https://ilimdernek.org/wp-content/uploads/2018/03/20171120_114938.jpg
banner 468x60

Sebuah catatan Seminar Lughotuna.id
Bersama Dr. Amir Walid As Siba’i
(Director of Mother Tongue Uni Emirat Arab)

Seminar Lughotuna.id
Seminar daring bersama Dr. Amer Walid As Sibai (Director of Mother Tongue UEA)

Mother Tongue’ atau ‘markaz lisanul um’ merupakan lembaga yang memiliki fokus terhadap pembelajaran, pengembangan dan penyebaran bahasa Arab untuk penutur bahasa Arab yang non Arab. Lembaga ini berdiri kurang lebih 15 tahun yang lalu dan terpusat di Uni Emirat Arab (UEA). Dalam praktiknya, terdapat tiga bidang yang menjadi aktifitas utama dalam ‘markaz lisanul um’ yaitu pembelajaran bahasa Arab untuk berbagai macam pembelajar, pelatihan pengajaran bahasa Arab untuk pengajar bahasa Arab dan pelatihan membaca kitab bahasa Arab. Telaah terhadap pembelajar bahasa Arab yang dilakukan oleh ‘markaz lisanul um’ menunjukan bahwa terdapat kurang lebih 200 orang yang mempelajari bahasa Arab dengan berbagai macam latar belakang dan identitas di belahan dunia. Hal ini menimbulkan banyak problematika dalam praktik pengajarannya. Sebagai contoh, bisa dicermati tujuan orang Eropa dalam mempelajari bahasa Arab. Mayoritas tujuan mereka mempelajari bahasa Arab yaitu ingin bisa menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi dan tidak menginginkan untuk mempelajari kaidah bahasa Arab atau mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an.
Kemudian apabila melihat realita pembelajaran bahasa Arab di negara Asia. Pembelajaran bahasa Arab di negara Asia tergolong baik. Dalam prosesnya pengajaran kosa kata atau ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab yang menjadi dasar dalam berkomunikasi telah dilaksanakan dengan baik. Namun yang disayangkan yaitu kebiasaan untuk menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi masih perlu ditingkatkan. Problem utama pembelajaran bahasa Arab di negara Asia timur termasuk di Indonesia yaitu kurangnya praktik penggunaan bahasa Arab dalam berbicara. Pada hakikatnya penggunaan bahasa Arab dalam berbicara merupakan sarana latihan sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi komunikasi berbahasa Arab. Dalam ranah Indonesia, pembelajaran bahasa Arab lebih difokuskan ke ranah teoritis daripada praktis. Seperti yang diketahui bersama bahwa banyak sekali teori-teori kompleks yang diajarkan kepada para pembelajar bahasa Arab di tingkat awal. Teori-teori yang diajarakan terkadang membuat pembelajar merasa bingung atas aplikasi dalam komunikasi. Padahal kemahiran utama dari pembelajaran bahasa Arab yaitu kemahiran berbicara dengan bahasa Arab. Tentu hal ini menjadi ‘PR’ untuk para pemerhati dan pengajar bahasa Arab di Indonesia.
Melihat realita pembelajaran bahasa Arab yang dipelajari oleh orang dengan berbagai macam identitas, ‘markaz lisanul um’ mengkonsep pembelajaran bahasa Arab yang cocok untuk para penutur bahasa Arab yang non-Arab. Langkah awal yang dilakukan yaitu mengadakan pelatihan untuk para pengajar bahasa Arab. Salah satu fokus dalam pelatihan tersebut yaitu cara mengajarkan bahasa Arab. Mayoritas pengajar bahasa Arab mengetahui cara mengajar bahasa Arab namun masih sedikit dari kalangan para pengajar bahasa Arab yang mengetahui dan mempraktikkan pengajaran bahasa Arab yang tepat.
‘Markaz lisanul um’ menulis buku ‘silsilatu al lisaan’ sebagai bahan ajar bahasa Arab untuk para penutur bahasa Arab yang non-Arab. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman panjang dalam pembelajaran bahasa Arab dan telaah mendalam buku bahan ajar bahasa Arab. Adapun komposisi buku ‘silsilatu al lisan’ terdiri dari empat bagian, pertama, kitab at tamhiidi dan kitab al mubtadi untuk pembelajar tingkat pemula, yang kedua kitab al mutawasith untuk pembelajar tingkat menengah dan yang terakhir kitab al muatqodim adalah untuk tingkat lanjutan. Dalam dua buku pertama silsilatul lisan diharapkan pembelajar bahasa Arab bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dengan benar. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kemahiran tersebut melalui buku ‘silsilatu al lisan’ hanya membutuhkan waktu 150 jam pelajaran tanpa mempelajari kaidah-kaidah dalam bahasa Arab. Kemudian melalui buku ‘silsilatul lisan’ pembelajar non-Arab dapat membaca berbagai kata atau kalimat dalam bahasa Arab dan menghafal lebih dari 60 kosa kata baru dalam bahasa Arab selama 10 jam pelajaran. Salah satu kelebihan buku ‘silsilatu al lisan’ yaitu integrasi buku ‘silsilatu al lisan’ dengan digital. Pembelajar bahasa arab dapat mempelajari bahasa Arab secara mandiri melalui konten digital buku ‘silsilatu al lisan’. Setiap kata atau kalimat dapat di bunyikan apabila ditekan pada tulisan kata atau kalimat yang tercantum dalam konten digital buku ‘silsilatu al lisan’. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan penutur bahasa Arab yang non-Arab dalam pembelajaran bahasa Arab pada era digital. Seperti yang difahami bersama bahwa kecanggihan digital atau teknologi sangat berpengaruh terhadap berbagai macam lini kehidupan sekaligus memberikan tantangan baru terhadap proses pembelajaran bahasa. Sekali lagi hal ini merupakan bentuk konkrit upaya lembaga pemerhati bahasa Arab untuk penutur non-Arab dalam penyediaan sarana pembelajaran bahasa Arab.
Metode pembelajaran bahasa Arab melalui buku ‘silsilatu al lisaan’ tidak terdapat materi kaidah bahasa bahasa Arab untuk tingkat pemula. Inilah yang membedakan dengan pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan di Indonesia. Pembelajaran bahasa Arab di indonesia terlalu berfokus kepada penguasaan kaidah-kaidah bahasa Arab di tingkat pemula, padahal kemahiran berbicara menggunakan bahasa Arab merupakan kompetensi utama yang harus dicapai oleh pembelajar bahasa Arab yang non-Arab.

Related posts