Sosok Sentral Kiyai dalam Ruang Lingkup Pesantren

Pesantren secara etimologi berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe– dan akhiran –an sehingga menjadi pe-santri-an yang bermakna kata “shastri” yang artinya murid. Sedangkan menurut Nurcholish Majid kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.

Dawam Rahardjo mendefinisikan bahwasanya Pengertian pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tradisional dan menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan berbasiskan Islam yang dipelajari oleh para santri dan diajarkan oleh para kiyainya secara tradisional dan sistematis dalam pelaksanaannya. Sedangkan pendapat hampir sama dikemukakan oleh Imam Zarkasyi secara definitif mengartikan Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, dimana kiyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya. Sejalan dengan apa yang dikemukakan para ilmuwan diatas bahwasanya dalam suatu pesantren ada figur kiyai yang menjadi elemen paling esensial di dalam pesantren, selain sosok kiyai sebagai pendiri pesantren, pertumbuhan dan berkembang suatu pesantren semata-mata tergantung pada kemampuan pribadi kiyainya dalam mengatur pola kehidupan yang terjadi di dalam ruang lingkup pesantren.

Asal usul kata kiyai sendiri sebagaimana yang diungkapkan oleh Zamakhsyari Dhofier “asal-usul perkataan kiyai dipakai untuk ketiga jenis gelar yang berbeda: pertama, sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat, umpamanya, “Kiyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Keraton Yogyakarta. Kedua, gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya. Ketiga, gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pemimpin pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam Klasik kepada santrinya”. Pendapat ini sesuai dengan sebutan di Jawa Tengah dan Jawa Timur ulama yang memimpin pesantren disebut kiyai. Akan tetapi ada sebutan lain di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Jawa Barat misalnya mereka disebut Ajengan.

Kebanyakan para kiyai beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai suatu kerajaan kecil dimana kiyai merupakan sumber mutlak dari kekuasaan dan kewenangan dalam kehidupan dilingkungan pesantren. Tidak seorang santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kiyai dilingkungan pesantrennya, kecuali kiyai lain yang lebih besar pengaruhnya atau guru dari kiyai tersebut.

Meskipun kebanyakan kiyai tinggal di daerah perdesaan, mereka merupakan bagian dari kelompok elit dalam struktur sosial, politik dan ekonomi di masyarakat Indonesia. Sebab kiyai sebagai suatu kelompok yang memiliki pengaruh yang amat kuat di masyarakat. Kiyai juga merupakan kekuatan penting dalam kehidupan politik Indonesia, selain itu kiyai di perdesaan biasanya mempunyai lahan yang luas baik sawah atau kebun yang digarap bersama santrinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di pesantren itu, seperti halnya Kiyai Mufassir (dikenal dengan sebutan Abuya Mufassir) di Ciomas Banten yang dikenal dengan sosok kiyai yang sangat menyukai kehidupan natural dengan alam dan antipati terhadap hal-hal kemajuan zaman sehingga kesehariannya lebih suka mengkonsumsi makanan dari hasil cocok tanam bersama santri-santrinya.

Para kiyai dengan kelebihannya dalam penguasaan pengetahuan Islam, seringkali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam, hingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tidak terjangkau, terutama oleh kebanyakan orang awam. Itu terbukti sejak masuk Islam ke Indonesia, sejarah mengungkapkan fakta bahwa para kiyai telah menempati kedudukan sosial yang tinggi. Sejak di bawah pemerintahan kolonial Belanda, para Sultan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pada waktu itu, lebih banyak menaruh perhatian dan mempercayai sosok kiyai untuk membantu menangani aspek-aspek politik, sosial, dan keagamaan di lingkungan kerajaan. Salah satunya ialah Kesultanan Banten pada abad XVIII yang menempatkan kiyai sebagai qadi (hakim) untuk menangani hukum-hukum di Kesultanan Banten yang menggunakan sistem Syariat Islam, sehingga peranan kiyai pada waktu itu sangat dibutuhkan sebagai hakim di Kesultanan.

Selain itu, ketika seorang kiyai memiliki banyak santri tidak hanya meningkatkan pengaruh dan status kepemimpinan seorang kiyai, tetapi juga dapat membantu menambah kekayaan, pendapatan tambahan berupa uang dan bentuk-bentuk pendapatan lainnya, yang mereka terima dari para murid-muridnya. Akan tetapi untuk menjadi seorang kiyai, seorang calon harus berusaha keras melalui jenjang yang bertahap. Pertama, ia biasanya merupakan anggota keluarga kiyai. Setelah menyelesaikan pelajarannya diberbagai pesantren, kiyai pembimbingnya yang terakhir melatihnya mendirikan pesantren sendiri. Seringkali kiyai pembimbing turut serta secara langsung dalam pendirian proyek pesantren baru, sebab kiyai muda dianggap mempunyai potensi untuk menjadi seorang alim yang baik dan berfungsi sebagai santri senior.

Hubungan selalu dijalin dengan baik dan tidak terputus antara sesama kiyai. Ini terbukti dengan hubungan antara satu pesantren dengan pesantren lain, baik dalam satu kurun zaman maupun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian perkembangan suatu pesantren tergantung sepenuhnya kepada kemampuan pribadi kiyainya dalam mengatur dan mengorganisir pesantren yang dipimpinnya. Kiyai juga menjadi ruh dasar dalam kehidupan pesantren dan menjadi elemen yang paling disegani dari suatu pesantren yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Kiyai senior juga harus mempersiapkan (regenerasi) seorang kiyai muda sebagai pengganti yang sepadan atau berkemampuan cukup tinggi jika ditinggal oleh kiyai terdahulunya. Tujuannya agar pesantren terus merawat tradisi yang sudah ada dan mengembangkan sistem pembelajaran di dalamnya. Sehingga pesantren tetap menjaga eksistensinysa dalam menghadapi perkembangan zaman yang sangat pesat seperti sekarang ini.

Related posts