Suami Belanja ke Pasar lalu Turun Pamor?

Manusia dalam kehidupan sehari-hari dihadapkan pada sebuah kebutuhan untuk memenuhi jasmaninya, atau diistilahkan kebutuhan pangan meliputi sembako (sembilan bahan pokok) misalnya; beras, gula, telur, susu, ayam, daging, sayur mayur, buah-buahan, vitamin, dan lain sebagainya. Bagi laki-laki yang sudah menikah maka wajib baginya memenuhi kebutuhan pangan ini untuk kelangsungan hidup keluarganya. Praktek yang terjadi di masyarakat kebanyakan suami memberi nafkah pangan secara mentah atau berupa uang tunai. Padahal teori secara hukum fikih suami wajib memenuhi kebutuhan pangan siap saji alias ready to eat.

Fakta di masyarakat adalah ketika istri mendapatkan belanja harian atau langsung bulanan sekaligus masih mentah, butuh proses untuk menjadikan panganan siap saji. Tahap pertama, istri harus membelanjakan uang tersebut ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah tangga terlebih dahulu bagi yang mendapatkan nafkah secara tunai dari suaminya. Berbeda lagi jika istri mendapat nafkah belanja berupa transferan, maka istri harus pergi ke ATM terdekat untuk mengambil nafkah belanjanya. Proses tidak berhenti sampai di sini saja, tahapan selanjutnya adalah istri mengolah dan memasak hasil belanjaan tersebut. kemudian hasil masakan baru bisa dinikmati oleh sekeluarga. Tentunya hal ini merupakan proses yang panjang dan memakan waktu bukan?

Sebuah hal wajar jika pasar tradisional maupun modern penuh dijejali oleh kaum hawa, sebab kehidupan perempuan identik doyan berbelanja. Bahkan sudah menjadi hukum alam bila makhluk yang bernama peremuan dibiarkan berlama-lama di pasar pastinya dia akan betah atau kerasan. Utamanya mereka yang memiliki hobi windows shopping di mall atau pusat perbelanjaan. Entah mereka dengan tujuan pertama membeli sesuai dengan list belanjaan atau tiba-tiba tanpa perencanaaan.

Namun, pernahkah kita menjumpai secara khusus di pasar-pasar tradisional  kaum lelaki yang menyandang peran menjadi suami alias pimpinan rumah tangga yang mana mereka terjun langsung atas kesadaran penuh dalam melakukan kerjasama tugas domestik atau mereka yang dimintai pertolongan istrinya untuk berbelanja ke pasar sembari membawa daftar belanjaan?. Terkadang beberapa dari mereka merasa keren jika mampu dan cekatan membatu istrinya berbelanja ke pasar sambil membawa tentengan tas keranjang khusus ke pasar, ada juga dari mereka yang merasa enggan membawa tas dari rumah sendiri. Intinya kubu ini mendukung aktivitas suami bertugas berbelanja kebutuhan harian ke pasar.

Berbeda jika kubu budaya patriarki menganggap bahwa suami yang berbelanja ke pasar adalah sebuah aib, sesuatu yang tidak elok, sesuatu yang menyebabkan suami turun pamor, ada juga yang berpandangan bahwa suami seperti adalah suami-suami takut istri. Parahnya lagi ada yang menghakimi istrinya ke mana saja, sampai-sampai yang berbelanja adalah suaminya. Hal tersebut merupakan deretan cuitan masyarakat kita yang kontra jika suami yang berbelanja di pasar.

Nabi Muhammad memiliki kesamaan seperti suami lain pada umumnya, beliau juga memiliki rutinitas pergi ke pasar dan barang belanjaannya tidak mau dibawakan oleh sahabat. Beliau yang berbelanja sendiri ke pasar, dan beliau pula yang menenteng hasil belanjaannya. Bukankah ini merupakan sebuah potret bijaksana yang diperankan oleh Nabi kita yang melekat pada dirinya sikap kebijaksanaan.

Hal tersebut menandakan bahwa Rasul adalah pribadi yang tidak ingin merepotkan pihak lain, beliau ingin mandiri dan ingin memberikan keteladanan paripurna kepada suami-suami di setiap zaman bahwa pekerjaan domestik bisa dilakukan sendiri alangkah lebih baik dari pada harus merepotkan istri dengan dalih istri wajib menaati segala perintah suami. Sebab istri bisa jadi kewalahan mengurus aktivitas rumah yang lain dan tugas membersamai anak-anak penuh waktu. Jika suami mau mewakafkan dirinya dengan seutuhnya untuk merawat cinta yang mendasar kepada keluarganya dengan cara bersikap koperatif terhadap istrinya merupakan nilai istimewa bagi dirinya, dan tentunya dia juga meneladi sikap Nabi akhir zaman yang bergelar al-amin tersebut.

Terlepas dari menyikapi label turun pamornya seorang suami atau bahkan naik pamornya seorang suami jika turut andil dalam tugas berbelanja ke pasar kembali pada paradigma dan kultur sebuah masyarakat setempat. Tiap keluarga berhak memutuskan untuk mengatur urusan domestiknya menurut keyakinan dan cara pandang masing-masing. Terpenting  esensi kewajiban dan hak suami istri berjalan dengan baik dan harmonis. Tapi, yang perlu digarisbawahi bersyukurlah engkau wahai para istri jika suamimu ringan tangan dalam tugas berbelanja di pasar. Karena hal tersebut bukti dari sikap qawwamnya seorang suami, juga merupakan bentuk harmonisasi dalam menjalankan peran tanpa ada rasa superioritas maupun inferioritas dalam kehidupan berumah tangga, dan bahkan diberikan penghargaan oleh istrinya pamor keteladanan sebagai suami idaman dengan menjejak kehidupan Rasul akhir zaman.

 

Related posts