Sumber dan Karakteristik Filsafat Etika Islam

banner 468x60

Etika sebagai sebuah ilmu yang telah mengalami Islamisasi ilmu dari bahasa Yunani ke dalam dalam bahasa Arab yang disebut sebagai Akhlak. Sedangkan sifat dari pengetahuan itu sendiri dalam dunia Islam kembali pada tauhid. Sehingga etika Islam bersumber kepada Wahyu Allah (Al-Quran) dan perkataan Rasul (Hadits).

Sumber Etika Islam

Al-Quran dan hadits menjadi sumber dari segala ilmu, termasuk etika atau akhlak. Dalam alquran sendiri ada beberapa terma untuk menunjuk kepada konsep moral atau kebaikan religius seperti al-khayr, al-birr, al-qisth, al-iqsath, al-‘adl, al-haqq, al-ma’ruf dan at-taqwa. Perbuatan-perbuatan yang baik biasa disebut shalihat, sedangkan perbuatan dosa disebut sayyi’at.

Dalam bahasa Arab sendiri, “Etika Islam” biasa disepadankan dengan beberapa istilah sebagai berikut: (1) ‘Ilmu akhlaq (2) falsafat al-akhlaq (3) al-akhlaq (4) al-adab (Abd. Haris, 2010; 43). Al-Quran Mengatakan; “Maka Dia (Allah Swt.) mengilhamkan kepadanya (jiwa manusia) yang salah dan yang benar. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya. Dan sesungguhnya rugi besar orang yang mengotori” (Qs. Al-Syams: 8-10).

Sedangkan dalam hadits lain, Nabi menyatakan, “Perbuatan baik adalah yang membuat hatimu tentram, sedangkan perbuatan buruk adalah yang membuat hatimu gelisah”. Sehingga kita dianjurkan untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk yang membuat hati gelisah.

Menurut Abd. Haris, dalam Encyclopedia of Ethics, dikutip dari bukunya sendiri, dijelaskan batasan etika Islam sebagai berikut: “Islamic ethic is based on and drawn from shari’a, which in turn is based on and drawn from Qur’an and Hadith, namely, reasoning from analogy and reaching consensus”. Di sini kita menjadi lebih paham bahwa sumber dari etika Islam yaitu dasarnya al-Quran dan hadits. Sedangkan sumber lainnya melalui cara khusus yaitu ijma dan qiyas (tentu saja kesimpulan ini masih bisa diperdebatkan).

Sebelum membahas sumber filsafat etika atau dalam Islam disebut sebagai filsafat akhlak lebih jauh, maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu secara etimologi apa itu akhlak. Akhlak berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “Khuluqun” yang menurut logat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.

Menurut Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga dalam buku “Pengantar Studi Akhlak” mengenai pengertian akhlak, kedua nya mengutip dalam buku Encyclopedi Britanica yang identik dengan definisi etics sebagai berikut: Ethics is the syistematic study of the nature of value concepts, “good”,”bad”, “ought”, “right”, “wrong”, etc. and of the general principles which justify us in appliying them to anything; also called “moral philosophy”.

Artinya ilmu akhlak ialah studi yang sistematis tentang tabiat dari pengertian-pengertian nilai “baik”, “buruk”, “seharusnya”, “benar”, “salah”, dan sebagainya dan tentang prinsip-prinsip yang umum yang membenarkan kita dalam mempergunakannya terhadap sesuatu, ini disebut juga filsafat moral.

Oleh karena itu, filsafat etika di dalam Islam disebut dengan filsafat akhlak. Bahkan Rasulullah Saw. diutus diantara misinya adalah membawa umat manusia kepada akhlakul karimah. Sehingga beliau bersabda yang sudah sering kita dengar juga bahwa Rasulullah diutus kedunia ialah untuk menyempurnakan yang mulia.

Perangai halus bangsa Arab Pra-Islam bisa dilihat dari syair yang mereka ciptakan. Misalnya syair Zuhair Ibn Abi Salam yang mengatakan: “Barangsiapa menepati janji, tidak akan tercela; barangsiapa membawa hatinya menuju kebaikan yang menentramkan, tidak akan ragu-ragu”.

Menurut Fazlur Rahman seperti yang dikutip Abdul Azis secara faktual, Al-Quran merupakan sebuah kitab ajaran etika, prinsip-prinsip serta seruan-seruan moral, dan bukannya sebuah dokumen hukum. Semangat al-Quran merupakan semangat moral dengan menekankan pada ide monoteisme atau ketauhidan serta keadilan moral.

Oleh sebab itu, sudah sangat jelas bahwa al-Quran dan as-Sunnah menjadi sumber dari etika Islam yang sekaligus meneguhkan karakteristik agama Islam itu sendiri sebagai agama yang Syumul (sempurna). Sehingga didalamnya mengatur segala macam aspek kehidupan manusia, termasuk didalamnya aspek akhlak, baik, buruk dan lain sebagainya yang berkaitan dengan etika.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga bagaimana kemudian etika Islam lahir dan terinspirasi dari pemikiran Yunani mengenai etika dengan tokohnya seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. Hingga karya ketiga filsuf Yunani tersebut dipelajar dan diterjemahkan karya-karya nya kedalam bahasa Arab oleh para pemikir Islam atau filosof muslim awal yaitu Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih yang konsen mempelajari bidang etika.

Bahkan menurut Haidar Bagir, etika Al-Ghazali dan Kant memiliki kesamaan dari segi aliran yaitu deontologi yang mendasarkan pada fitrah manusia. Tujuan akhir dari etika ataupun akhlak adalah kebahagiaan seperti yang sudah dijelaskan Aristoteles dan Ibnu Miskawaih di atas.

Karakteristik Etika Islam

Perbedaan mendasar antara etika Islam dengan etika Barat ataupun Yunani seperti yang sudah dijelaskan diawal pembahsan yaitu pada aspek sumber tauhid dan menjadikan Al-Quran serta Hadits sebagai sumber primer. Konsekuensi dari hal tersebut mengakibatkan etika Islam tidak sepenuhnya produk akal manusia, melainkan ada campur tangan Wahyu Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW.

Selain karakteristik Etika Islam, sebagaimana yang sudah dikemukakan diatas, Chairul Huda membuat aksioma etika Islam dengan berbagai indikator nya sebagai berikut. Pertama, etika Islam bersifat unitas, yaitu berkaitan dengan konsep tauhid. Kedua, equilibrium. Berkaitan dengan konsep ‘adl (keadilan) merupakan suasana keseimbangan diantara pelbagai aspek kehidupan manusia. Ketiga, Kehendak bebas. Keempat, tanggung jawab. Kelima, ihsan yang merupakan suatu tindakan yang menguntungkan orang lain.

Sementara itu Hamzah Ya’qub menulis lima karakteristik etika Islam yang menurutnya dapat membedakannya dengan etika Barat; Pertama Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk. Kedua Etika Islam menetapkan yang menjadi sumber moral, ukuran baik buruknya perbuatan, didasarkan kepada ajaran Allah SWT, yaitu ajaran yang berasal dari al-Quran  dan al-Hadits. Ketiga Etika Islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima oleh seluruh umat manusia di segala waktu dan tempat. Keempat ajaran-ajarannya yang praktis dan tepat, cocok dengan fitrah (naluri) dan akal pikiran manusia (manusiawi), maka etika Islam dapat dijadikan pedoman oleh seluruh manusia. Kelima Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran sinar petunjuk Allah SWT, menuju keridlaan-Nya.

Ciri etika Islam didasarkan atas kekuatasn al-Quran dan al-Hadits yang didalamnya mengandung unsur keimanan dan kepercayaan akan adanya hari pembalasan.

 

Pos terkait