Sunan Psikolinguistik Awal, Wilhelm von Humboldt

banner 468x60

Penelusuran mengenai tarikh psikolinguistik mengantarkan pada deret nama-nama. Sudah jelas nama-nama tersebut nyaris didominasi oleh nama-nama orang Barat. Memang hampir tidak ada nama-nama orang oriental yang bertengger, entah karena memang dikursus ilmu ini dengan berbagai atribut namanya sangat kuat beraroma barat.

Nama Wilhelm von Humboldt jadi nama yang cukup tua dibanding Charles Osgood atau John Dewey, bahkan Noam Chomsky yang saat ini masih hidup. Ia lahir pada 22 Juni 1767 dan meninggal pada tanggal 8 April 1835. Humboldt adalah seorang filsuf, namun ia juga bekerja sebagai pejabat negara dan diplomat Jerman serta pendiri Universitas Humboldt Berlin pada tahun 1949.

Bacaan Lainnya

Humboldt lahir di sebuah kota Bernama Potsdam, Margraviate Brandenburg. Setelah malang melintang dalam kehidupan ia menghembuskan nafas terakhirnya di Tegel, Provinsi Brandenburg.

Dalam hidupnya ia menikah dengan Caroline von Dacheröden pada Juni 1791. Keduanya dikarunia delapan anak dari pernikahannya. Namun dari jumlah tersebut sepertinya hanya lima putra-putrinya yang tumbuh bertahan hingga dewasa. Hal ini bisa jadi diakibatkan situasi sosial yang melingkupi Jerman kala itu yang mengharuskan bertahan hidup dengan sangat keras.

Dengan karya dan karir yang terbilang cemerlang, siapa sangka bahwa seorang Humboldt adalah seorang dengan home schooling saat masa kecilnya. Tidak dijelaskan secara rinci apa yang menyebabkan seorang Humboldt tidak masuk ke sekolah pada umumnya, namun bisa jadi ada status dan pandangan yang berbeda pula terhadap lembaga home schooling pada masa tersebut. Sebut saja misalnya alasan agar lebih fokus dalam belajar atau karena strata Humboldt yang memungkinkan ia masuk dalam lembaga Pendidikan tersebut.

Selanjutnya Humboldt juga rupanya tercatat tidak pernah menyelesaikan studinya di universitas-universitas Frankfurt (Oder) dan Göttingen, Jerman. Hal ini bisa jadi karena memang orientasi utamanya bukan hak-hal materil semacam ijazah dan semacamnya. Kematangannya dalam berpikir sampai pada derajat filsuf dan karirnya yang sampai masuk dalam lingkaran pemerintahan menunjukkan bahwa ada orientasi lain yang lebih prinsipil dalam diri Humboldt.

Tentu hal yang demikian tidak bisa dijadikan alibi bagi para pelajar atau mahasiswa yang menyengaja untuk tidak menyelesaikan studinya dengan alasan hendak mengikuti sunnah-nya Humboldt. Bisa jadi itu karena hujjah kaslan-itas semata yang dipermak – dempul sehingga tampak sangat akademis tapi miskin dalam prinsip dan fakir dalam karya.

Wilhelm von Humboldt di samping seorang filsuf popular ia juga seorang yang concern dalam ilmu kebahasaan. Dia mempelajari bahasa Basque. Beberapa karya Yunani kuno karangan Pindar dan dan Aeschylus diterjemahkan olehnya ke dalam bahasa Jerman.

Linguis Jerman tersebut pada awal abad ke-19 telah merintis kajian tentang hubungan antara bahasa dan pikiran. Ia mencoba melakukan sebuah studi komparasi tata bahasa dari bahasa yang berbeda. Tidak hanya sampai di situ, ia juga membandingkan perilaku bangsa penutur dari bhasa-bahasa tersebut. Di mana hasil eksperimennya tersebut menunjukkan bahwa bahasa menentukan pandangan masyarakat penuturnya.

Pemikirannya yang demikian akan menjadi salah satu tonggak dalam pondasi dasar berdirinya kajian ilmu psikolinguistik di abad setelahnya. Bahkan tema bahasan antara bahasa – pikiran – budaya menjadi bahasan yang sangat khas dalam dunia psikolinguistik dengan perspektif yang semakin dinamis.

 

Pos terkait