SYATHAHAT: UNGKAPAN YANG MENYEBABKAN SALAH PAHAM

banner 468x60

Sejak awal kemunculannya sufisme merupakan suatu hal yang menarik untuk dibahas hingga saat ini. Dalam sejarah sufisme bukanlah sesuatu yang bersifat statis, ia terus mengalami perkembangan. Sufisme berkembang mengikuti perkembangan masyarakat. Pada awal kemunculannya sufisme dikenal dengan “mistisisme Islam” atau “esoterisme Islam”. Apabila dilihat dari sisi kebahasaan sufisme ini merujuk pada kata tasawuf yang memiliki arti upaya yang dilakukan seseorang dalam pengejaran penamaan spiritual atau suatu proses seseorang dalam menjadi sufi.

Didalam tasawuf agama tidak hanya dimengerti atau dipahami tapi juga dihayati serta dirasakan untuk suatu kebutuhan atau bahkan lebih dari hal itu suatu kenikmatan apabila berhadapan dengan sang pencipta alam semesta. Sahabbuddin mengatakan eksistensi manusia yang memiliki kecenderungan untuk mencari nilai-nilai Ilahi yang merupakan bukti bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk rohani selain sebagai makhluk jasmani. Ketika manusia merupakan makhluk jasmani, manusia memerlukan hal-hal yang bersifat materi, sedangkan ketika manusia sebagai makhluk rohani ia akan membutuhkan hal-hal yang bersifat imaterial.

Didalam tasawuf sendiri terdapat maqamat dan juga ahwal yang merupakan istilah penting di dalam dunia tasawuf. Maqamat dapat diartikan sebagai “stasiun” atau diartikan dengan cara seorang sufi untuk mencapai tujuan idealnya dengan proses purifikasi jiwa terhadap kecenderungan materi agar dapat kembali kepada cahaya Tuhan. Sedangkan ahwal sendiri merupakan keadaan spiritual sesaat yang diberikan oleh Tuhan di tengah seseorang sedang melakukan perjalanan kerohanian.

Para pengkaji tasawuf membagi sufi dalam dua kelompok yakni kelompok pertama adalah kelompok para sufi yang mengutamakan kewarasan dan kelompok kedua adalah kelompok para sufi yang membiarkan dirinya larut ke dalam kemabukan terhadap Allah. Kelompok kedua ini sering kali menimbulkan kesalahpahaman orang-orang terhadap tasawuf, hal ini karena kalimat-kalimat nyeleneh yang mereka lontarkan yang mana kalimat-kalimat nyeleneh tersebut para sufi menyamakan dirinya dengan Allah.

Ungkapan-ungkapan nyeleneh tersebut dalam tasawuf biasa disebut dengan cetusan-cetusan ekskatik atau syathhiyyat—syathahat. Syathahat adalah cetusan-cetusan nyeleneh yang dilontarkan oleh para sufi ketika mereka dalam keadaan ekstase (wajd). Buya Hamka di dalam bukunya memberikan pengertian ini mengenai syathahat ini ialah kata-kata penuh ganjil yang tidak dapat di pegang dan dikenakan hukum, hal ini dikarenakan orang yang mengatakan kata-kata ganjil tersebut posisinya dalam  keadaan mabuk. Yang dimaksud Buya Hamba mabuk di sini bukan mabuk alkohol akan tetapi mabuk terhadap fana’ nya. Maksud fana’ di sini ialah ketika para sufi merasa diri kemanusiaannya telah luruh di dalam Tuhan atau dengan kata lain mereka merasa telah bersatu dengan Tuhan. Fana’ ini akan terjadi ketika para sufi telah berhasil menaklukkan diri kemanusiaannya dan merawat ruhnya (ruh yang ditiupkan oleh Tuhan ke dalam diri manusia) sehingga ruh tersebut secara alami menyatu kembali dengan Tuhan.

Selain para sufi telah fana’ , dikutip dari buku saku tasawuf karangan Haidar Bagir, Imam Khomaeini mengatakan kata-kata atau ungkapan ganjil para sufi tersebut merupakan ekses dari keterbatasan wadah atau kejiwaan para sufi daripada luapan pengalaman spiritual yang para sufi terima. Karena begitu hebatnya pengalaman spiritual tersebut menyebabkan para sufi kewalahan dalam menampung di dalam dirinya sehingga meluber menjadi salah satunya bentuk ungkapan-ungkapan yang tak terkontrol. Ungkapan-ungkapan tersebut keluar dengan ungkapan kebahasaan yang berlebihan.

Salah satu tokoh sufi yang terkenal akan sythahatnya ialah Abu Yazid Al Bustami. Contohnya yakni “tidak ada tuhan, melainkan saya. Sembahlah saya, amat sucilah saya. Alangkah besar kuasa ku”. Dilain waktu beliau juga pernah berkata “pernah Tuhan mengangkatku dan ditegakkannya aku dihadapannya sendiri. Maka berkatalah Dia kepada ku: “Hai Abu Yazid, makhluk ku hendak ingin melihat engkau”. Lalu aku berkata: Silahkan Klik disini pakaikanlah kepada ku pakaian ke-AKU-an Mu, angkatlah aku ke dalam Kesatuan Mu. Sehingga apabila makhluk Mu melihat ku mereka akan berkata “kami telah melihat Engkau” maka, engkaulah itu dan sedangkan aku tidak ada di sana””.

Dengan perkataannya yang nyeleneh tersebut Abu Yazid terlihat syirik atau menyimpang. Akan tetapi Buya Hamka mengatakan bahwa tasawuf Abu Yazid itu tidak keluar dari garis syara, karena tasawuf Abu Yazid senantiasa diukur dengan tokoh teladan yang ditinggalkan oleh Nabi dan tidak memilih jalannya sendiri diluar kehendak agama. Begitu pun Ahmad Asnawi mengatakan bahwa tauhid dari Abu Yazid itu masih sesuai dengan itikad muttakallimin yang berdasarkan pada dalil yang berbunyi “biannahu la fa’ilun fi kulli syau in illa’llah” dan ajaran tasawuf Abu Yazid menurutnya masih dalam keadaan yang berdasar pada tauhid yang murni atau dengan kata lain tasawuf dari Abu Yazid itu tidak mengandung ajaran wahdah al wujud.

Referensi Bacaan:

Asnawi, Ahmad. Abu Yazid Al Bisthami. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bagir, Haidar. Buku Saku Tasawuf. Bandung: Penerbit Arasy, 2005.

Hamka. Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad. Jakarta: Pustaka Keluarga, 1952.

Pos terkait