Tafsir Mistik Mengapa Mashdar Berada pada Urutan Ketiga dalam Tashrif

Dalam urutan tashrif Fi’il (kata kerja), shighat atau forma mashdar berada di urutan ketiga. Secara general tiga urutan pertama tashrif itu biasanya adalah fi’il madhi (kata kerja lampau), fi’il mudhori’ (kata kerja aktifitas yang sedang atau akan berlangsung) lalu mashdar (kata benda yang tidak memiliki sangkut paut dengan waktu). Secara disiplin ilmu sharf atau morfologi bahasa Arab demikian tiga urutan paling depan. 

Syaikh Abd al-Qadir memandang bahwa bukan suatu kebetulan mashdar berada di urutan ketiga. Ada semacam kesengajaan ilahiah sehingga formatnya berbentuk demikian. Ada tafsir mistiknya dari tiga deret shighat tersebut. Sebagaimana yang ditulis oleh al-Kuhin bahwa ketiga deret tersebut adalah simbol dari Syari’at, Thariqat dan Hakikat.

Read More

Dalam perjalanan menuju titik mashdar yang disejajarkan dengan hakikat, Syaikh Abd al-Qadir melihat bahwa ketiga istilah tersebut adalah tangga-tangga spiritual yang ditapaki oleh seorang hamba. Pertama adalah proses diri seorang hamba dalam ber-syariat yang tidak terjerembab dalam formalisme namun juga tidak menanggalkan, apalagi sampai meninggalkan. Peroses penegakkan syariat dalam diri dan hidup seorang hamba sampai pada taraf terlatih, tunduk dengan segala rules yang ada di dalamnya dan berujung pada titik kenikmatan dalam menjalankannya.

Setelah paripurna dalam tangga tersebut maka mukasyafah berikutnya adalah keadaan hati seorang hamba yang terhantar pada laku-laku yang berlaku dalam Thariqat. Di mana ia mengosongkan pekarangan hati dari berbagai perilaku hina dan anti kehambaan serta menghias diri dengan berbagai laku-laku hidup yang mulia penuh fadhilah keutamaan.

Sampailah pada mukasyafah ketiga di tahap berikutnya, di mana ruh hamba tersebut sibuk dengan berbagai perenungan dalam samudera hakikat yang luas dan tidak hanya dalam waktu yang sebentar atau sekejap, namun justru sampai menguatkan kaki untuk terus berdiri menyaksikan kilauan cahaya-cahaya-Nya.

Ketiga hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Artinya saat hati seseorang sedang menapaki laku Thariqat tidak lantas lepas dan bebas dari Syariat. Justru ketiga kondisi tersebut saling bersinergi satu sama lain dalam perjalanan ruhani seorang hamba.

Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari mengatakan bahwa Syariat, Thariqat dan Hakikat adalah satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Syariat adalah ibadah zhahir seorang hamba. Tahriqat adalah ibadah zhahir dan batin. Sedang hakikat adalah ibadah batin. Sebab segala sesuatu itu pasti ada zhahir dan batinnya.

Dalam klasifikasinya, Mashdar dibagi kepada dua bagian yakni masdhar lafzhi dan maknawi. Artinya seluruh hamba terbagi ke dalam dua bagian dalam hal penampakan wujudnya. Pertama adalah kelompok yang rasa ma’nawi-nya lebih kuat dari rasa indrawinya. Kelompok ini adalah kelompok yang berhasil keluar dari jerat goda hawa nafsunya yang berwujud kenikmatan-kenikmatan semu sehingga mampu melihat wujud-wujud yang sejati. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah para malaikat dan kalangan bijak dari Bani Adam.

Adapun kelompok yang kedua adalah kelompok lafzhi yang kuat indrawinya daripada maknawi-nya. Kelompok ini adalah kelompok yang masih belum mampu menyingkap tirai-tirai fatamorgana dari dunia sehingga masih asyik berkelindan dengan jerat goda hawa nafsu dan syahwat. Yang masuk dalam kelompok ini adalah benda-benda mati.

Pada bagian berikutnya dalam penjelasan Imam Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin, sebagian kalangan ‘Arifin membagi hamba ke dalam tiga klaster. Pertama adalah makhluk yang memiliki akal tanpa syahwat, mereka adalah malaikat. Kedua adalah makhluk yang bersyahwat tanpa akal, mereka adalah binatang-binatang ternak dan binatang-binatang semacamnya. Ketiga adalah makhluk yang memiliki akal sekaligus memiliki syahwat, mereka adalah anak keturunan Adam a.s.

Lanjut syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin bahwa barang siapa seoraang hamba yang akalnya lebih mendominasi daripada syahwatnya maka ia seperti malaikat atau bahkan yang lebih baik lagi dari itu. Pun barang siapa hamba yang syahwatnya lebih mendominasi bahkan cenderung mengintimidasi akalnya maka ia seperti bintang- binatang ternak atau yang lebih rendah lagi dari itu.

Oleh karenanya segala bentuk kemuliaan itu tidak bisa ditebus dengan angan-angan semata. Tidak bisa digapai dengan omongan hampa yang berupa bualan tak berguna. Tapi kemuliaan dari Tuhan itu hanya bisa digapai dengan Mujahadah al-Nafs. Derajat luhur seperti malaikat itu hanya bisa dilakukan dengan terus berkelahi dengan hawa nafsu, dan bila kita kalah digilas olehnya maka sudah pasti derajat yang kita punya sebelas dua belas dengan binatang-binatang ternak atau yang lebih rendah lagi dari itu.

 

Related posts