Tahapan Beribadah Atau Amaliyah Kepada Tuhan: Syari’at, Thariqah, Dan Haqiqah Dalam Pandangan Sufi (Tasawuf)

banner 468x60

Tahapan Beribadah Atau Amaliyah Kepada Tuhan: Syari’at, Thariqah, Dan Haqiqah Dalam Pandangan Sufi (Tasawuf)      

Tahap pertama yaitu, Syari’at. Syari’at berarti apa yang diturunkan Allah kepada RasulNya meliputi akidah dan hukum-hukum, sedangkan secara khusus Syari’at berarti hukum Islam. Syari’at secara luas adalah Din yaitu agama yang diturunkan Allah kepada para nabi (Qs. al-Syura’: 42). Pengertian Syari’at dalam arti segala sesuatu yang dikandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah ditemukan dalam tulisan ulama terkemuka, seperti dalam kitab al-Ta’rifat karya Ali Ibn Muhammad al-Jurnani dan dalam kitab al-Musthasfa min ilm al-ushul karya Imam al-Ghazali. Menurut mereka, Syari’at identik dengan al-Din (agama). Para sufi menafsirkan hukum Syariah sebagai praktik alami yang wajib dalam agama yang dikenal luas sebagai rukun Islam. Bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist.

Para sufi memiliki aturan sendiri tentang ibadah Amalia. Dari sudut pandang sufi, ibadah berada pada level Amalia Syariah. Wujud Syariat adalah beribadah kepada Allah dengan jalan meninggalkan larangan-larangan Allah dan menjalankan perintah-perintah-Nya. Syari’at, di mata sufi, adalah tahapan para pemula atau mubtadi’ atau murid. Tujuannya agar dapat mencapai maqam taubat, taqwa, dan istiqomah. Inilah titik awal bagi calon sufi atau Salik. Siapapun yang masih berada di level Syariah masih terikat dengan aturan Mujahid.

           Tahap kedua yaitu, Thariqah. Dikalangan sufi, Thariqah berarti sistem dalam rangka mengadakan rangkaian jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji dan memperbanyak dzikir dengan penuh ikhlas semata-mata berharap bisa bertemu dan bersatu secara ruhiyah dengan Tuhan. Langkah ini bertujuan untuk menyingkirkan segala bentuk hinaan dan mendekatkan diri kepada Allah, yang wajib Anda lakukan untuk menghiasi diri dengan berbagai keelokan. Mereka yang berada dalam golongan tarekat atau mutaswis harus selalu menjunjung dan menjaga  kualitas akhwal dan maqam agar selalu dapat ditingkatkan.

Para sufi yang telah meninggalkan Wushul atau al-Washil sebagai pemilik keimanan yang paling tinggi selalu berkewajiban memenuhi semua panggilan al-haqa, yaitu Allah SWT. Dasar-dasar tarekat sufi: ijtihad artinya meningkatkan esensi dan kualitas Islam, suluk artinya meningkatkan esensi dan kualitas iman, sair artinya peningkatan essensi dan kualitas keimanan seseorang, sayr yang maksudnya memperbaiki essensi dan kualitas keihsanan, dan thayr yang berarti proses jadzb atau tertarik oleh kemurahan dan kebaikan Allah SWT.

          Tahap terakhir atau ketiga yaitu, Haqiqah. Dari sudut pandang tasawuf, Haqiqah berarti esensi Syariah atau rahasia terdalam, selera, keadaan dan akhir jalan sufi. Jika gerak-gerik dan bacaan shalat adalah syari’at, maka dialog spiritual bertemu antara seorang abid (hamba) dengan mabudi (yang disembah) adalah hakikatnya. Apabila gerakan dan bacaan haji adalah syariah, maka pertemuan dengan Allah itu nyata (haqiqah).

Haqiqah yang bertujuan dapat menyaksikan Allah muraqabah dan musyahadah serta harus dijalani dengan cara memperbaiki ruh dengan berbagai kualitasnya. Ibadah seorang hamba pada tahap ini, berbeda dengan hamba lainnya. Jika, mayoritas manusia melakukan ibadah bukan karena Allah. Seperti, mengharapkan kenikmatan duniawi semata dan berharap hajatnya terkabul. Tetapi, manusia yang telah mencapai tahap haqiqah akan lebih menginginkan ridho Allah dan kesenangan surgawi yang abadi.

Daftar Puataka

al-Haddad al-Huseyni. ‘Abd. Allah bin ‘Alwiy bin Muhammad. Risâlat al-Mu’âwanah wal Madzâhrah wal Mawâzirah li al-Râghibîn min al-Mu’minîn fî Sûluk Tharîq al-Âkhirah. Indonesia: al-Maktabah al-Mishrîyah Syirbûn, t.th.

al-Ghazali. Abu Hamid. 1996. Rawdhat al-Thâlibîn wa ‘Umdat alSâlikîn. Beirut: Dar al-Fikr.

Ismail. Asep Usman. 2012. “Integrasi Syari’ah Dengan Tasawuf” dalam Ahkam: Vol.XII No 1 Januari. Jakarta: UIN Jakarta.

Asmaran. 2002. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Bangun. Ahmad dkk. 2013. Akhlak Tasawuf. Jakarta: RajaGrafindo

Pos terkait