Takdir Melawan Potensi

Setiap makhluk memiliki takdirnya masing-masing. setiap makhluk yang diciptakan Allah ( manusia, hewan, tumbuhan) sudah memiliki takdir. Tak heran kalau dilihat dari hal tersebut, setiap individu mempunya keinginan, kemampuan, dan takdirnya masing-masing. Mengapa demikian? karena Allahtelah menetapkan ketika berumur empat bulan dalam kandungan ibu Allah telah menurunkan takdir. Takdir yang telah Allah berikan itu sudah tercatat di dalam buku di alam sana atau yang di sebut Lauhul mahfuz dan tak bisa di ganggu gugat oleh makhluknya.
Takdir merupakan salah satu dari rukun iman umat Islam. tidak hanya di yakini, melainkan memahami yang sebenarnya agar keimanan kita mencapai kesempurnaan. “Tidak beriman seseorang hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya” (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Selain itu kehidupan yang kita alami pun itu takdir kita yang telah Allah berikan kepada kita. Semisal kita bisa jadikan contoh dari ceritanya Shirin Al-Athrus, salah satu santri dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah. Dia salah satu santri yang selalu meraih prestasi di pondoknya. Selain itu dia juga selalu diperintahkan untuk dijadikan sebagai utusan dibidang perlombaan, yaitu MQK (musabaqoh qiroatil kutub). Namun saat dia selesai sekolah aliyahnya, dia dipaksa oleh keadaan untuk meneruskan pendidikannya. Alhasil dia menjadi seorang santri seta menjadi salah satu mahasiswa di salah satu Universitas.
Dengan kondisinya yang sekarang, dia masih mengayominya dengan santai dan terus menikmati prosesnya. Sampai akhirnya ada surat edaran datang ke kantor santri putri yang berisikan pengumuman perlombaan MQK di tingkat kabupaten. Pada awalnya dia di beri tawaran oleh pengurus pendidikan di sini. Namun dia menolaknya karena dia merasa kurang sanggup untuk lomba kitab tersebut. Kitab yang di tawarkan itu adalah kitab Alfiyyah ibnu malik, tetapi dia berharap diberi tawaran kitab yang lain. Alhasil prediksinya pun salah dan tidak ada tawaran yang kedua kali.
Tibalah waktunya perlombaan itu, awalnya dia tidak merasakan apa-apa, tidak merasakan sakit hati atau pun yang lain. Namun ketika acara telah selesai dan telah mendengarkan cerita dari teman-temannya, dia mulai merasakan penyesalan atas kejadian kemarin. Dan banyak sekali santri yang tidak percaya bahwa dia tidak mengikuti lomba tersebut.
Hari demi hari telah berlalu, rasa penyesalannya pun mulai reda. Karena dia mulai berfikir karena takdir bisa mengalahkan potensi. Sebaik- baiknya potensi yang kita punya pasti tidak akan berguna apabila taqdir berkata lain. Dia pun mulai menyibukan dirinya sendiri dengan berbagai kegiatan lain agar kejadian itu tidak akan teringat kembali.
Nah, jadi itulah salah satu contoh takdir yang ada di kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, masih banyak lagi kejadian-kejadian yang terjadi di muka bumi ini. Nah sekarang yang perlu kita tanamkan didiri kita adalah belajar yakin atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Baik taqdir itu baik maupun buruk, karena seiringnya waktu berjalan kita akan mengetahui makna yang tersirat dari taqdir yang telah Allah berikan kepada kita. So, learn to believe in the destiny that Allah has given us. Because someday we will know what destiny means.

Related posts