Tasawuf Khauf dan Raja’ dalam Kenegaraan

banner 468x60

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya” – Ir. Soekarno

Pernah ada suatu pernyataan tentang koruptor yang diibaratkan bagaimana Indonesia bisa maju jika orangnya (koruptor) tidak takut dengan Tuhan, mengambil hak rakyat yang jelas-jelas itu dilarang. Maka perihal takut menurut Al-Ghazali dalam karyanya Minhajul Abidin, khauf (rasa takut) didasarkan atas dua hal. Pertama, rasa takut dapat mencegah kemaksiatan. Ketika jiwa telah kotor, banyak noda yang menempel padanya maka jiwa yang demikian akan cenderung pada keburukan. Substansi manusia secara sederhana memiliki esensi dan eksistensi atau jiwa dan jasad.

Read More

Jiwa merupakan esensi dalam diri manusia yang abstrak, sedangkan jasad adalah fisik atau tubuh. Diibaratkan seperti kuda dan penunggang kuda, jiwa seperti penunggang kuda yang mestinya mengarahkan kuda itu kemana berjalan. Kuda ibarat jasad yang dimiliki manusia, keduanya saling membutuhkan akan tetapi jangan sampai penunggang kuda hanya mengikuti kemana kuda mengarah, atau nafsu jasadiyah mengarah kepada keburukan.

Mungkin inilah yang terjadi pada koruptor, dan pelanggar janji atau sumpahnya, mengikuti keinginan jasadiyahnya untuk terus memiliki serta menginginkan apa yang dapat memuaskan nafsu fisik atau jasadnya. Dana yang mestinya untuk kepentingan rakyat digunakannya sendiri untuk kepentingan pribadi. Mengikuti hawa nafsunya juga melanggar janjinya sendiri sebagai seorang yang dipercaya rakyat. Maka orang seharusnya memiliki rasa takut akan larangan Allah Swt. hingga dapat mencegah kemaksiatan.

Perihal yang kedua menurut Al-Ghazali adalah agar tidak bangga dengan ketaatan, yang akhirnya malah menghancurkan, bahkan menyiksanya dalam hinaan, cacat, dan keburukan seperti perbuatan dosa. Seolah dengan baik mengemban dan melaksanakan amanah rakyat akan tetapi akhirnya tertangkap sebagai koruptor. Memiliki kursi kedudukan tinggi hingga akhirnya berakhir pada kesombongan. Koruptor adalah demikian yang berkata seperti perkataan orang yang baik mampu melaksanakan amanah, tetapi berbuat seperti perbuatan orang munafik.

Sebelum beranjak menerima amanah, mesti mengetahui kemampuan diri (pengetahuan akan diri sendiri), kalau kata Al-Ghazali lagi kita harus tahu akan jiwanya sendiri terlebih dahulu. Hal yang dekat dengan dirinya sendiri sebelum mengetahui hal-hal lain. Jika dengan yang dekat dengan diri sendiri (jiwanya sendiri) belum tahu maka Al-Ghazali mengibaratkan “ia bagaikan seorang pengemis yang tidak memiliki persediaan makanan, lalu mengklaim bisa memberi makanan seluruh penduduk kota” (Al-Ghazali, 2001).

Seluruh rakyat Indonesia pasti memiliki harapan yang terbaik untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti halnya para pahlawan yang dahulu telah mengusir kemudian memerdekakan rakyat dari penjajahan dan penindasan hingga membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memiliki harapan untuk Indonesia yang diperjuangkan dengan seluruh jiwa raganya demi kemerdekaan serta kemakmuran rakyatnya. Hari-hari yang dilalui didedikasikan untuk negara dan kemanusiaan.  Sampai pada akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 dibacakanlah teks Proklamasi kemerdekaan oleh Ir. Soekarno. Hingga sekarang harapan itu diserahkan kepada kita sebagai penerus, sebagai pengisi kemerdekaan yang telah di perjuangkan oleh para Pahlawan.

Harapan akan kemajuan bangsa, kemakmuran, serta berjalannya sesuai Dasar Negara Indonesia yakni Pancasila. Harapan tidak hanya sekedar harapan, maka harus kita realisasikan dikehidupan kita sehari-hari. Seperti para pahlawan dengan harapan bersama diperjuangkannya dengan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia Merdeka. Ibnu Qoyyim mengatakan “tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal”. Harapan tanpa usaha seperti sia-sia adanya.

Sebagai rakyat Indonesia untuk melanjutkan harapan para pahlawan juga harapan sendiri untuk Indonesia yang lebih maju, dapatlah bergerak mulai dari hal yang paling kecil dari diri sendiri. Mulai dengan menjaga lingkungan yakni membuang sampah, bijak menggunakan plastik, merawat pepohonan, serta lain sebagainya. Bergerak adalah satu langkah untuk mewujudkan harapan itu sendiri.

Dalam Risalah Qusyairiyah karya Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi, menegaskan tentang perbedaan harapan (raja’) dengan angan-angan belaka (tamanni). “Perbedaan antara raja’ dan tamanni (berangan-angan pada sesuatu yang mustahil) terletak pada nilai dan dampaknya. Tamanni dapat mengakibatkan (menyebabkan) orang menjadi malas dan tidak mau berjerih payah dan sungguh-sungguh. Sedangkan raja’ adalah kebaikan dari tamanni. Raja’ merupakan perbuatan terpuji, sedangkan tamanni adalah perbuatan tercela.” Untuk harapan itu benar-benar dikatakan harapan maka harapan itu harus berupa perbuatan yang terpuji yang kemudian di realisasikan dengan perbuatan itu sendiri yang beramal.

Berangan-angan hanya akan menuju hal yang tercela karena didalamnya kita tidak mau bergerak, menjadi malas, tidak mau berjerih payah dan sungguh-sungguh. Demikian bukanlah sebuah harapan, karena harapan membawa implikasi pada hal yang dicita-citakan dimasa yang akan datang.

Didalam ketakutan juga ada harapan. Harapan untuk Bangsa Indonesia yang lebih baik mestinya dimiliki setiap rakyat Indonesia. Agar harapan tidak hanya menjadi angan-angan maka perlu bergerak. Perubahan dapat dimulai dengan diri sendiri, Jalaluddin Rumi mengatakan “Kemarin aku menjadi pintar, aku ingin merubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, Aku ingin merubah diriku sendiri”. Kita realisasikan harapan dan cita-cita bangsa Indonesia bersama berdasarkan Dasar Negara Pancasila.

Referensi:

Al-Ghazali, I. (terj. D. S. R. & F. B. (2001). Kîmiyâ’ al-Sa ‘ âdah. Jakarta: Zaman.

Related posts