Teladan Sang Kaisar dan Filosof

Tahun 2024 merupakan tahun pesta pora politik indonesia, karena pada saat itu Indonesia sedang menghadapi dilema  yakni transisi kepemimpinan dihadapkan pembangunan yang sudah direncanakan seperti IKN. Perdebatan tentang pemindahan ibu kota menyoroti pro dan kontra dalam masyarakat, dari pembangunan hingga transisi budaya, serta dampak ekologis yang terjadi.

Belum lagi ditambah narasi besar tentang bonus demografi yang dihadapi indonesia kedepan sampai puncaknya 2045.Bonus demografi terjadi ketika struktur penduduk mempunyai jumlah penduduk kelompok usia produktif (15-64 tahun) yang sangat besar, sedangkan proporsi penduduk muda menurun dan proporsi penduduk lanjut usia tidak terlalu besar. (Falikhah: 2017)

Narasi tersebut bagai mata pisau yang mana bisa menjadi peluang untuk negara ini maju, atau malah menjadi bencana untuk tanggungan pemerintah terkait mengelola sumber dayanya. Oleh karena itu masalah yang ada pada hari ini menuju tahun 2024. Merupakan langkah yang harus strategi, cerdas dimulai dari memupuk kepemimpinan spiritual.

Mengapa harus kepemimpinan spiritual- filosofis?, Karena pada fakta sosial yang terjadi banyak masalah yang dihadapi Indonesia, mulai dari Korupsi, HAM, Bonus Demografi, Darurat Agraria dan masalah lainya. Pada hari ini yang kita butuhkan adalah ide besar seorang pemimpin yang bisa menggerakan elemen yang ada, di dasar kemampuan spiritual yang kuat.

Kepemimpinan spiritual- filosofis merupakan puncak pengembangan model atau pendekatan kepemimpinan karena berangkat dari model manusia sebagai makhluk  rasional, emosional dan spiritual  atau makhluk terstruktur Kepribadian terdiri dari tubuh, nafsu, akal, hati dan pikiran. Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan  sejati dan pemimpin sejati. Beliau memimpin dengan etika politik yang kuat membentuk karakter, integritas dan keteladanan yang luar biasa. Ia bukan  pemimpin karena pangkat, kedudukan, status, garis keturunan, kekuasaan, dan kekayaan. (Rafsanjani: 2017)

Tetapi yang perlu digaris bawahi kepemimpinan spiritual ini bukan citra politik keagamaan, yang terkadang menampilkan hak yang palsu. Tetapi dari segi perspektif kaisar romawi yang dihormati dalam sejarah Romawi yakni Marcus Aurelius.

Sang Kaisar dan Filosof

Marcus Aurelius adalah kaisar Romawi dari tahun 161 hingga 160. Ia dilahirkan pada tanggal 26 April 121 M di Roma Italia. Ketika masa pemerintahan Kaisar Hadrian. Ia dikenal karena minat filosofisnya, Aurelius adalah salah satu kaisar paling dihormati dalam sejarah Romawi. Ia dilahirkan dalam keluarga kaya dan terkemuka secara politik.

Saat tumbuh dewasa, Aurelius adalah siswa yang berdedikasi, belajar bahasa Latin dan Yunani.Namun minat intelektual terbesarnya adalah Stoicisme, sebuah filsafat yang menekankan nasib, akal sehat, dan pengendalian diri. Wacana, yang ditulis oleh mantan budak dan filsuf Stoa Epictetus, memiliki pengaruh besar terhadap Marcus Aurelius. Atas kepribadiannya yang serius dan pekerja keras bahkan diperhatikan oleh Kaisar Hadrian. (Tanhati: 2023)

Selama ia memerintah ia didampingi saudaranya yakni Lucius Verus, sebagai wakil dari Aurelius. Selama keduanya memimpin ia menghadapi tantangan perang, seperti perang melawan kekaisaran Parthia untuk menguasai wilayah di Timur, Suku-suku jerman pada akhir 160-an. Keduanya juga menghadapi segala bala’ penyakit yang hadir di rakyatnya. Tapi dalam kepemimpinan Marcus ia dikenal sebagai pemimpin yang memiliki sifat kontemplatif yang tenang, dan pemerintahan yang didorong akal sehat, untuk menemukan sebuah solusi dari sebuah persoalan, berdasarkan keyakinan Stoicnya. (Biography: 2023)

Pemikiranya untuk Kepemimpinan Tahun 2024

Dalam memimpin, Marcus Aurelius mendisteibusikan filosofi stoicismenya kepada rakyatnya. Ia dikenal dengan kaisar yang bijak, karena Marcus sendiri memiliki prinsip filosofi yakni hubungan, Alam, Manusia, Tuhan. Yang mana ketiganya kemungkinan terjadinya hubungan harmonis. Titik tekanya ada pada manusia sebagai aktor yang memberika keindahan akan trilogi hubungan tersebut, karena manusia ada dua dimensi yakni manusia dengan keilahianya serta diiringi rasionalnya.

Marcus Aurelius menggambarkan kepemimpinanya sebagai kaisar romawi dalam karya “Meditations” adalah gagasan tujuan dari makhluk rasional adalah mengikuti nalar dan aturan pola dasar yang terhormat, dari kondisi yang mengatur alam semesta. (Umam, Muhlas: 2023)

Konsep tersebut hampir mirip dengan konsep “Memayu hayuning bawana”  yang dimiliki orang jawa. Bedanya Marcus menekankan pada rasionalitas, diiringi spiritualitas karena seorang pemimpin harus menggunakan pikiran dan perasaannya untuk menata kebijakan publik berasaskan tiga hubungan tadi. Konsep tersebut menekankan pada rasa, cipta, karsa di dalam jiwa seorang pemimpin. Progam demi progam di tunjukan sebagai komitmenya pada tujuan ia menjadi pemimpin.

Pada dasarnya Filsafat Stoicisme adalah panduan teoritis dan praktis dalam mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, Stoicisme juga menekankan kajian logika, fisika, etika. Maka tidak dikagetkan lagi, Marcus adalah sosok pemimpin yang selalu mencari intelektualnya dengan selalu menggunakan nalar dan keselarasan alam yang terkenal kata- katanya adalah “Hidup selaras dengan Alam“, pemikiran itulah yang menjadi fondasi utama, tapi dalam ruang lingkup kata alam atau “Nature“, jika diterapkan pada manusia dan kepemimpinan adalah akal sehat, rasio, nalar dan kemampuan untuk melakukan kebaikan dengan penuh. (Kirana: 2023)

Yang pada hari ini politik di indonesia mengalami dekandensi moral dan degradasi karakter. Banyaknya kasus korupsi, gaya flexing, money politik, politik agama, adalah tanda masih kurangnya terbentuk politik yang selaras dengan spiritual dan filosofi.

Kemudian ia memiliki prinsip yang sejalan dengan itu, dan sejalan dengan gurunya Epictetus, yakni dikotomi kendali. Pemimpin harus mengerti apa aspek yang ada dalam kendalinya dan apa yang bukan. Kemudian mampu untuk mengontrol dalam dirinya, seperti opini, persepsi, tujuan, keinginan, atau segala sesuatu yang bersumber pada pikiran dan tindakan nya. (Kirana: 2023)

Karena dari itu Kepemimpinan Spiritual- Filosofis, memiliki ruang tersendiri untuk mencerna, mengaplikasikanya. Permasalahan yang ada sebaiknya di sikapi dengan perubahan diri menuju perubahan kolektif. Karyanya “Meditations” harus dipahami dan dicermati untuk pemimpin- pemimpin yang akan melanjutkan “Stakeholder” untuk membangun negeri ini dengan kedalaman spiritual dan nalar. Dengan tujuan menciptakan kesejahteraan sosial.

Penulis: Krisna Wahyu Yanuar (Mahasiswa UIN Satu Tulungagung)

 

Daftar Pustaka

Falikhah Nur. 2017. “BONUS DEMOGRAFI PELUANG DAN TANTANGAN BAGI INDONESIA”. Al Hadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 16, No. 32. Hlm 5.

Rafsanjani H. 2017. “KEPEMIMPINAN SPIRITUAL (SPIRITUAL LEADERSHIP)”. Jurnal Masharif al-Syariah: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, Vol. 2, No.1. Hlm 3.

Tanhati Sysilia. 2023. “Fakta Menarik Kehidupan dan Pemerintahan Kaisar Romawi Marcus Aurelius”. National Geographic Indonesia: https://nationalgeographic.grid.id/amp/133668929/fakta-menarik-kehidupan-dan-pemerintahan-kaisar-romawi-marcus-aurelius?page=2

Biography. 2023. “Marcus Aurelius: As Emperor of Rome from 161-180, Marcus Aurelius kept the empire safe from the Parthians and Germans but is best known for his intellectual pursuits.” : https://www.biography.com/political-figures/marcus-aurelius

Umam, Muhlas. 2023. “Konsep Memayu Hayuning Bawana Perspektif Marcus Aurelius: Studi Analisis Deskriptif”. AL-AFKAR: Journal for Islamic Studies, Vol. 6, No. 3. Hlm 661.

Kirana. 2023. “Konsep Kebahagiaan Hidup menurut Marcus Aurelius Ditinjau dari Perspektif Filsafat Stoikisme”. Gunung Djati Conference Series, Vol. 24. Hlm. 264.

Related posts