Telah Berpulang ke Rahmatullah, Kyai Rodli

Saya kira hampir seluruh mahasiswa PBA UIN Sunan Kalijaga mengenal sosok Kyai yang juga sekaligus dosen ini. Kecuali mahasiswa yang memang datang atau masuk belakangan saat beliau sudah udzur dan lebih banyak menghabiskan waktu recovery di rumah. Pun saya yakin mayoritas dosen-dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan mengenal beliau. Pasalnya dari sekian banyak dosen memang tamplian beliau yang sangat nyentrik dengan kumis mode center dan rambut ikal yang khas plus logat jawa yang khas dalam ber-takalum.

Awal perjumpaan penulis dengan Kyai Rodli ketika masuk di ruang mata kuliah Al-Qur’an semester satu. Latar belakang kultur bahasa yang berbeda membuat saya sedikit kesulitan mengikuti kuliah beliau yang saat itu mayoritas memakai kosakata bahasa jawa. Pasalnya itu adalah fase awal saya yang berlatar belakang sunda mengenal kultur jawa-nya Yogyakarta, wa bil-khushus kelas Kyai Rodli.

Ketika mengisi matakuliah Al-Qur’an Kyai Rodli tidak begitu banyak mengutip pandangan-pandangan intelektual Barat. Orang-orang seperti Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abi Zayd, Theodore Noldeke, Richard Bells jarang dibawa bahkan disebut. Beliau tampak lebih asik menyampaikan pandangan-pandanhan pribadinya sehingga suasana lebih seperti ngaji ala pondok pesantren dengan slide power point di depan kelas.

Sependek yang saya tahu tentang kelas perkuliahan beliau, para mahasiswa selalu menempatkan Kyai Rodli dalam daftar urut pertama pilihan bila di semester itu ada kelas yang beliau ampu. Nalar pragmatis mahasiswa sangat simpel, karena di kelasnya presensi ditandatangani dengan cara “liberal”, bahkan bisa jadi beberapa mahasiswa yang kebetulan tidak masuk bisa “menyelundupkan” tanda tangannya. Pun Kyai Rodli termasuk kategori dosen yang tidak begitu mempersoalkan laku “kreatif” mahasiswa yang demikian. Baginya siapapun mahasiswa yang datang maka itulah “santri” yang harus dikuliahi saat itu.

Suatu ketika penulis sempat terlambat bersama Hamzah Dal Alif karena kelamaan di tempat fotokopi. Kami yang saat itu masih sangat awam tentang office dipaksa mengedit ulang makalah karena format word yang berbeda. Sampai di depan kelas perkuliahan sudah berlangsung sekitar 30 menit lebih. Hamzah mengajakku untuk lekas masuk saja, sementara aku sudah berpikiran untuk mengambil langkah balik kanan daripada dilempari rasa malu dari jamaah yang ada di kelas.

Namun temanku itu tanpa pikir panjang langsung buka pintu dan memohon izin untuk mengikuti kuliah sekaligus mohon maaf atas keterlambatan kami. Alih-alih marah Kyai Rodli malah sempat mencandai kami di depan dengan kelakar yang khas dan menyilakan kami masuk. Satu dari sekian scene yang cukup menegangkan sebagai mahasiswa baru kala itu.

Disamping kemudahan dalam aktifitas perkuliahan, sosok Kyai Rodli juga adalah sosok tajalli Tuhan Yang Maha Pemurah dalam pemberian nilai. Mayoritas mahasiswa yang masuk kelas beliau mestilah mendapat nilai A. Bila ada kelakar yang mengatakan bahwa nilai A itu adalah kesempurnaan yang hanya dimiliki oleh Tuhan, maka Kyai Rodli memang telah menjadi wakil Tuhan untuk mengemanasi-kan nilainya kepada para mahasiswa yang masuk di kelasnya. Fenomena inilah yang membuat kelas Kyai Rodli lebih tepat disebut sebagai tabligh akbar daripada ruang perkuliahan yang terbatas.

Tapi bagi penulis, sosok beliau yang humanis itulah yang membuatnya banyak diterima dan mendapat hati di kalangan para mahasiswa. Tatkala beberapa dosen so jaim dengan mahasiswanya di luar kelas, maka beliau adalah sosok yang ringan saja menjawab salam mahasiswa bahkan sampai merespon candaan-candaan para mahasiswanya di lorong-lorong kampus.

Rokok menjadi barang yang selalu lekat dengan dosen yang sudah jadi dekan di periode jelang masa udzurnya ini. Bahkan temanku Manan Nasution dari Medan kerap menemani beliau menunaikan ibadah hisap batang-batang itu di kampus. Tidak ada tafsiran pencedraan etika dalam benak mahasiswa melihat itu, setidaknya bagiku. Aku lebih melihat itu sebagai citra humanitas dari sosok yang diharapkan lebih lama dalam masa kepemimpinan prodi itu.

Keterlibatan akhir dengan beliau adalah saat penulis berada di forum munaqosah skripsi. Tiga penguji hari itu adalah Kyai Rodli, Pak Nurhadi dan Pak Dudung Hamdun (bukan Dudung Abdurrahman Mayjend. Pangdam Jaya). Saya masih ingat di forum itu beliau memberikan kritik terkait metode penelitian dan cara penulisan kesimpulan penulis yang masih berupa pengulangan. Namun sebagaimana citra tajalli-nya, dalam forum itu beliau memberikan nilai yang jauh dari kata kikir. Bahkan beberapa mahasiswa lain yang sudah terancam DO banyak yang dibantu oleh beliau agar segera menyelesaikan tugas akhirnya.

Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Kyai Rodli dalam forum-forum kuliahnya. Sekali waktu di tengah pandangan moderasinya yang ala NU, beliau menyampaikan kewaspadaannya sebab ada orang dengan latar belakang salah satu majelis pengajian tafsir masuk di lingkungan fakultas. Saya saat itu memang tidak menanyakan lebih lanjut perihal itu. Mungkin karena masih berkubang dalam keluguan intelektual kala itu.

Selanjutnya dalam ekuilibrasi ilmu kalam yang masih penulis ingat adalah saat menjelaskan tentang “watalzamu jama’ata-l-muslimin“. Menurutnya, di manapun kita tinggal hendaknya mengikuti komunitas muslim yang mayoritas. Oleh karena beliau berada di Indonesia maka beliau memilih Sunni. Bila beliau ada di Iran tentu beliau akan memilih Syi’ah.

Semua pemikiran teologi beliau penulis coba awetkan dalam beberapa catatan kuliah. Pun diktat-diktat beliau pernah penulis kumpulkan dengan beberapa diktat mata kuliah lain. Sayangnya kumpulan berkas itu hilang di sekretariat HMI Cabang Yogyakarta ketika penulis “mengevakuasi” diri di sana beberapa bulan.

Setelah lulus dari kampus, penulis hanya mendengar beberapa serpihan kabar tentang Kyai yang sudah populer di kalangan mahasiswa ini. Mulai dari isu tentang beliau yang didorong untuk melanjutkan S3 sampai isu-isu politis di kalangan dosen-dosen prodi PBA.

Hari saat tulisan ini dibuat, adalah hari di mana tahlilan dan doa bersama pertama untuk beliau dihelat. Kyai Rodli telah berpulang ke Rahmatullah. Saya dan orang-orang yang mengenal beliau bersaksi bahwa beliau adalah hamba Tuhan yang baik. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di taman kebaikan yang hakiki di alam sana. Aamiin.

Related posts