Teori Behavioristik dan Pembelajaran Bahasa

Pembahasan mengenai dispilin ilmu Psikolinguistik lahir karena perpaduan antara psikologi dan linguistik, tepatnya ketika sebagian teori linguistik bertemu dengan sejenisnya dari teori-teori psikologi. Dengan kata lain, beberapa teori bahasa modern mendapatkan sebagian teori terkininya itu dari psikologi, dan menjadikannya parameter untuk melihat karakteristik bahasa, parameter dalam membuat cara mendiskripsikan untuk kemudian menganalisisnya. Demikian juga parameter dalam cara memperoleh dan mempelajarinya, serta cara mengajarkannya. Atas dasar itu, teori bahasa yang dikenal dengan teori struktural itu ada berdasarkan teori tingkah laku (behaviorisme) dalam psikologi, lalu dikenal sebagai behavioristik. Kali ini akan dibahas teori yang dikenal sebagai teori belajar behavioristik.

Teori Belajar Behavioristik

Read More

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar serta berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori pemerolehan bahasa tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan teori belajar, karena teori pemerolehan sangat terkait erat dengan bahasa pertama, sedangkan teori belajar tidak melulu dikaitkan dengan belajar bahasa tapi juga dengan belajar bahan ajar lainnya. Sedangkan teori behavioristik ini memusatkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya.

Menurut teori ini, semua perilaku termasuk tindak balas (respons) ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson selaku tokoh aliran behavioristik juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut hubungan stimulus-respons. Jika organisme atau makhluk hidup diberi stimulus atau rangsangan (reward/ punishment) maka akan terjadi respon atau tanggapan berupa perubahan perilaku.

Kemampuan berbicara dan memahami bahasa diperoleh melalui rangsangan lingkungan. Anak hanya merupakan penerima pasif dari tekanan lingkungan. Anak tidak memiliki peran aktif dalam perilaku verbalnya. Dalam behaviorisme, proses perkembangan bahasa pada anak ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya. Dari itu, Pavlov pun berpendapat bahwa pembelajaran merupakan rangkaian panjang dari respons-respons yang dibiasakan.

Pandangan Aliran Behavioristik

Kaum behavioris memandang bahwa bahasa adalah adat kebiasaan yang mudah dikontrol dan dikuasai. Bahasa menjadi bagian dari tingkah laku manusia yang dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Perbedaan bahasa di antara manusia terjadi bukan karena faktor keturunan. Menurut mereka, perbedaan itu terjadi akibat atau dampak lanjutan dari perbedaan lingkungan bahasa itu sendiri.

Faktor lingkungan alami tersebut seperti anak-anak yang memperoleh bahasa ibunya dari lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, unsur-unsur yang paling asasi di lingkungan adalah kedua orang tuanya, pendidik atau guru, saudara-saudaranya, teman-temannya, dan media baik didengarnya (audio) maupun yang dilihatnya (audio-visual). Lingkungan yang dapat mempengaruhinya bisa juga berbentuk pendidikan, seperti lingkungan seorang siswa asing yang belajar bahasa sasaran atau yang sedang ia pelajari, seperti bertempat tinggal di tempat atau negara bahasa yang ia pelajari, hidup dan berinteraksi dengan masyarakat penutur bahasa setempat.

Pemerolehan bahasa tidak berbeda dengan penguasaan berbagai kemahiran manusia lainnya yang tentu saja memerlukan proses belajar dan latihan.  Proses belajar dan latihan itu didasarkan pada rangsangan-rangasangan eksternal, seperti stimulus yang diikuti oleh respons-balik. Stimulus itu memerlukan penguatan apabila ia bersifat positif dan harus menjauhkannya jika stimulus itu negatif.

Tetapi perlu diperhatikan bahwa pembicaraan tentang proses belajar, latihan, stimulus, dan respons, dan lain sebagainya, menurut pandangan penganut teori ini, seorang anak tidak mesti pergi ke sekolah dan belajar bahasa pertamanya di bangku sekolah. Ia hanya bisa melakukan proses belajar dan memperoleh bahasa dengan cara memberikan latihan berupa contoh-contoh susunan kata atau kalimat bahasa yang dituju.

Tujuan pemberian contoh-contoh latihan itu dalam pandangan mereka dikhususkan dalam pengajaran bahasa bagi orang yang bukan penuturnya (orang asing), dengan jalan membentuk pembiasaan melalui unconscious (ketidak-sadaran). Artinya, cara pengajaran kaidah-kaidah bahasa dilakukan dengan cara membatinkannya ke dalam fikiran dan jiwa siswa secara tidak langsung.

Dari itu, dapat disimpulkan bahwa teori belajar behavioristik menekankan terkait perubahan tingkah laku yang tampak sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini berkembang menjadi salah satu alternatif aliran psikologi belajar serta berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan maupun pembelajaran. Tabik.

Related posts