Tidak Mudik: Bukan Cuma Soal Asik dan Tak Asik

banner 468x60

Beberapa hari lalu jagat dunia maya dipertontonkan video yang berisi nyanyian para Menteri Negara. Beberapa Menteri yang mendendangkan lagu jangan mudik dulu dengan gaya masing-masing. Kepala bergeleng-geleng, jari jempol berputar sampai jari yang berhentak-hentakan dengan meja. Dengan sekuat tenaga alam pikiran ini berupaya untuk melekatkan tema bahwa tingkah para Menteri yang demikian adalah bagian dari kampanye pemerintah untuk tidak mudik. Kreatifitas para pembesar Negeri agar pesannya dapat ditangkap dengan smooth pada seluruh kalangan masa kini. Meskipun itu adalah bagian hal paling sulit dalam situasi saat ini – untuk tidak disebut paling norak.

Nyanyian (M)udik

“Jangan mudik-jangan mudik dulu // nggak mudik tetep asik”, begitu kurang lebih lirik umum lagunya. Rasanya mudik dan tidak mudik bukan hanya persoalan asik dan tidak asik. Tapi sebuah momen sakral yang harus direlakan untuk tidak dilakukan terlebih dahulu. Dengan harapan agar situasi lekas membaik dan tabungan rindu itu bisa dipanen bersama keluarga saat situasi kembali normal dengan sepuas-puasnya, sepuas-puasnya!. Meskipun belum tahu di tahun kapan, bulan yang mana dan tanggal yang keberapa.

Musa Asy’ari memotret dengan sangat baik fenomena mudik yang seakan menjadi ritual tahunan masyarakat negeri ini dalam salah satu tulisannya di buku Islam: Keseimbangan Rasionalitas, Moralitas dan Spiritualitas yang dianggit oleh beliau sendiri. Ia mengatakan bahwa wajah positif dari mudik di antaranya adalah seseorang dapat menimba semangat hidup baru. Tatkala dari kota ia pulang kampung dan melihat realitas kehidupan sosial ekonomi di sana, menyulut semangat baru untuk bisa lebih sukses dan bahagia di hari-hari berikutnya. Lebih-lebih telah orang tua, Ibu dan Bapak telah turut mentangkupkan doa agar mulus rahayu berkah salamet.

Tentu dengan larangan mudik dari pemerintah ini ada keasikan hidup yang hilang di tahun ini. Tidak bisa mengecap hidangan lebaran yang biasanya disajikan dengan penuh suka cita di meja makan rumah. Tidak bisa membaui aroma tubuh ibu dan bapak yang siap berangkat menunaikan shalat Id. Tidak bisa meragap kedua telapak tangan orang tua yang padanya derai-derai air mata kerap tak terbendung dan tetiba berjatuhan saja. Juga keasik-syahduan lain yang tak bisa dimasukan dalam badan kata-kata.

Moralitas dan Kesetiaan

Bisa saja kita nekad untuk mudik dan bersikap tak peduli terhadap agitasi pemerintah. Sayang dimensi moralitas saya tak cukup untuk mengaminkan melakukan hal yang demikian. Kekhawatiran akan terjangkit virus corona di jalan, lalu menularkan ke keluarga di rumah selalu saja membayang-bayang. Kepedulian akan tenaga kesehatan yang sedari bulan-bulan awal munculnya virus ini terus berjibaku dan berjuang menyembuhkan pasien dengan mempertaruhkan nyawa juga terus mengetuk pintu empati diri tiada hentinya. Dan semuanya memang membuat suasana menjelang lebaran ini serba tidak asik.

Namun kita harus tetap saja terus bersetia mengikuti aturan yang berlaku. Pemerintah mungkin bisa dikelabui, tetapi sangsi sosial bisa lebih menyakitkan daripada pemeriksaan check point di jalan PSBB. Pada akhirnya nurani kewarasan sosial kita yang harus lebih banyak di dengar suaranya. Ketika orang lain melakukan berbagai tindak pelanggaran PSBB bukan berarti melegitimasi kita untuk turut melakukan hal yang demikian.

Bagi saya sendiri yang paling tidak asik adalah ketika mudik dilarang tapi pulang kampung diperbolehkan. Ketika anjuran untuk tetap di rumah terus disuarakan tapi dengan surat-surat sakti beberapa orang bisa dengan bebas terbang berpesawat. Ketika masjid sangat ketat ditutup tapi mall-mall mulai dibuka dengan antusias beberapa masyarakat yang sangat girang keranjingan diskon ini itu.  Bahkan yang terakhir pemerintah mengatakan mudik tetap dilarang yang diperbolehkan adalah beroprasinya beberapa moda transportasi.

Terlepas dari itu semua, kembali kepada apa yang diketengahkan oleh Musa Asy’arie bahwa hal yang menjadi paling penting dalam akhir Ramadhan ini adalah bagaimana hari-hari akhir puasa ini bisa mengantarkkan kita pada pencapaian spiritualitas puncak ketakwaan yang semakin tinggi. Jangan sampai seluruh energi dihabiskan untuk persoalan atribusi duniawi yang semakin menyeret akal pikiran kita pada ketidakpastian dan kebingungan. Bila suasana sosial saat ini terasa kurang asik, maka jangan sampai ruang kontemplasi yang paling suwung antara kita dengan Tuhan juga jadi tidak asik. Pada-Nya mudik yang sejati kembali.

Pos terkait