Tiga Langkah Menghindari Konflik Persfektif Alquran

Artikel ini hendak mendeskripsikan langkah sistematis menyikapi absurditas bernegara dalam sudut pandang al-Quran melalui tiga nilai tujuan pernikahan. Karena secara konseptual nyaris serupa antara membangun rumah tangga dengan membangun Indonesia, yang berbeda hanya kontekstualisasinya saja. Kandungan refleksi surat al-Ruum ayat 21 menunjukan aneka ragam keperibadian, sikap, watak dan latar belakang yang jelas berbeda. Namun, dengan spirit pernikahan semua perbedaan itu seolah hilang karena terdorong niat mulia, dalam hal ini sebagai upaya meraih sakinah.

Sakinah – Mawaddah – wa Rahmah

Menurut Said Agil Munawwar kata sakinah berakar dari huruf sin, kaf, dan nun yang mengandung makna ketenangan, diam atau tidak bergerak, antonimnya dari guncang dan bergerak. Mawaddah adalah jenis yang lebih melihat kualitas pribadi pasangan dan rahmah adalah jenis cinta kasih yang lembut, siap berkorban dan siap memberi perlindungan kepada yang dicintainya.

Sebagai klimaks pointer sakinah, maka hidup berbangsa dan bernegara harus dimulai dengan kesadaran untuk saling memberi rasa aman dan nyaman satu sama lain. Kehidupan manusia dapat divisualisasikan seperti bentuk rumah yang berfungsi menyelamatkan manusia dari ancaman, menghindari terik panas matahari dan gangguan yang dapat membahayakannya.

Solusi kedua yang ditawarkan al-Quran adalah mawaddah, yang artinya dipenuhi rasa cinta. Term ini merupakan kelanjutan dari sakinah, setelah manusia mendapatkan hak dasar menikmati rasa aman dalam hidupnya maka dengan mudah menjalin interaksi yang harmonis dengan pihak lain. Nilai yang hendak direaktualisasi dalam term mawaddah ini setidaknya mencakup dua prinsip yaitu nilai keadilan dan nilai sinergitas.

Setelah manusia mendapatkan rasa aman dan nyaman maka selanjutnya keadilan diharapkan datang. Keadilan sejatinya merupakan hak dasar manusia di dunia. Keadilan ini mustahil dapat terwujud ketika dalam diri manusia tidak memiliki rasa cinta. Cinta menjadi jembatan untuk melintasi dinamika kehidupan manusia.

Islam merespon prinsip keadilan ini dengan baik. Al-Quran memberikan arahan dalam bersikap adil dalam semua duduk perkara. Meskipun terdapat ikhtilaf dalam wilayah hukum. Akan tetapi Islam memberikan formula khusus dalam mencapai kategori adil ini, diantaranya sebagai berikut. Pertama secara antropologi -surat al-Ruum ayat 22- bahwa manusia harus menyikapi perbedaan bahasa dan warna kulit, pada kategori ini kita harus menghindari ujaran yang dapat menyakiti orang lain terlebih faktor bahasa dan warna kulitnya.

Kedua secara sosiologi -surat al-Hujurat ayat 13- bahwa manusia harus bertindak adil dalam menyikapi perbedaan dalam wilayah, suku dan ras. Ketiga secara yuridis -surat al-Taubah ayat 100- bahwa manusia harus adil dalam merespon hukum alam dengan munculnya kompetisi, akulturasi dan kehidupan yang dinamis.

Nilai kedua dalam membumikan mawaddah adalah sinergitas atau kerjasama. Upaya sadar setelah adil secara proporsional adalah membangun kerjasama berbasis kebangsaan. Alquran mengamini kehadiran sinergitas ini dalam QS. Ali Imron [3]: 102-103 dengan prinsip berpegang teguh dalam agama Allah. Ayat ini menjadi pondasi dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa.

Energi Cinta

Cinta menjadi pendorong utama manusia untuk tergerak melakukan kerjasama. Dengan cinta ini manusia akan mudah membangun negara dengan ragam perbedaan yang ada di dalamnya. Al-Quran menyifati umat Muhammad SAW dengan khoiru ummah. Sifat ini dapat berlaku ketika manusia bersinergi menyeru kebaikan dan mencegah pada keburukan. Amat luas sekali kandungan sinergi ini, secara eksplisit al-Quran menyeru “…Saling tolong menolonglah dalam kebaikan, dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan …”,ayat ini menjadi landasan pokok dalam bersinergi.

Mari bersatu membangun bangsa Indonesia ini dengan kekuatan kerjasama yang berasaskan al-Quran. Dua nilai di atas kiranya mampu mengurai beragam dinamika di Indonesia. Kesadaran untuk berlaku adil kemudian dibarengi dengan kemauan untuk kerjasama membangun Indonesia agar lebih baik.

Prinsip dasar yang ketiga adalah rahmah. Merupakan puncak solusi dalam membina umat berdasarkan teladan nabi Muhammad SAW. Penulis tidak sedang berbicara wilayah rahmah secara sempit, akan tetapi meliputi sikap nabi sebagai role model manusia dalam membangun umat dengan sifat rahmah -penuh kasih sayang- terhadap sesama. Sikap yang tercermin dalam pribadi nabi salah satunya toleransi (tasamuh), memahami (tafahum) dan seimbang (tawazun).

Kasih sayang nilainya lebih tinggi dari pada cinta. Karenanya perlu didukung dengan kemauan dan kesadaran bersama bahwa semata Tuhan menciptakan manusia agar untuk menebar kasih dan sayang untuk seluruh alam. Dengan berwawasan kebhinekaan inilah manusia terketuk hatinya untuk saling menghormati, menghargai dan mampu menjalin kerjasama dengan lintas agama, ras dan suku. Pribadi nabi telah menjadi rahmat bagi seluruh alam karena mampu mengakomodir beragam potensi manusia dengan perbedaannya.

Related posts