Tingkat Komunikasi Ilahiyat Para Ahli Ibadah

tingkat komunikasi ilahiyat
tingkat komunikasi ilahiyat

Rumus dasar Nahwu Akhlaqi atau Nahwu Mistik adalah berorientasi pada ungkapan-ungkapan terpuji seorang hamba. Rangkaian narasi di dalamnya menjadi dialog ilahiyat dalam bermunajat. Kita tidak mengabstraksikan format dialog tersebut seperti perbincangan dengan tetangga rumah melalui ungkapan seperti biasanya.

Dialog ilahiyat adalah salah satu perbincangan mesra seorang hamba dengan Allah SWT. Bahasa yang terucap tidak lagi terbatas pada lisan-lisan biologis, namun membenam pada lisan-lisan hati.  Sehingga terkadang secara ragawi ia tampak diam tanpa seucapun lafazh, namun dalam lubuk hatinya ia begitu ceriwis bercengkerama dengan Tuhannya.

Read More

Dua Tingkatan Komunikasi

Imam al-Qusyairi mengatakan dalam Nahwu al-Qulub bahwa dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya dibagi ke dalam dua bagian. Pertama manifestasi dari dialog itu adalah dalam rupa Munadah. Rupa ini ditautkan sebagai sifat para golongan ‘Abidin (para ahli ibadah).

Dialog Ilahiyat pada maqom ini baru pada bentuk pemanggilan seorang hamba pada Tuhan yang ia sembah. Di depan pintu Allah Azza wa Jalla, orang-orang pada maqom ini memanggil-manggil nama-Nya. Misalnya dalam pelaksanaan ibadah shalat sehari-hari, orang pada tingkatan ini sampai pada kesadaran melaksanakan shalat dengan rapalan-rapalan doa yang diucapkan pada masing-masing gerakan.

Orang yang memanggil depan pintu itu kebanyakan mereka belum tahu apakah yang punya rumah ada di dalam atau tidak. Mereka menunggu yang punya rumah menjawab panggilannya, entah dengan isyarat atau bahasa-bahasa responsi. Tujuan mereka adalah diperbolehkannya masuk oleh tuan rumah ke dalam rumah tersebut.

Tujuan para salik adalah wushul ilallah dengan simbol dipersilakannya masuk ke dalam rumah. Gerakan memanggil dan menunggu yang dilakukan oleh orang tersebut sejatinya adalah amaliyah ubudiyyah seperti shalat, zakat dan puasa. Di mana tujuan semua bentuk peribadatan terhadap Allah SWT adalah agar dapat wushul kepada-Nya.

Kedua, manifestasi dari dialog ilahiyat seorang hamba adalah apa yang disebut dengan nama Munajat. Menurut Imam al-Qusyairi, munajat adalah atribut yang melekat pada kelompok orang-orang yang berada pada tingkat al-Wajidin. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapati Allah SWT dalam hati dan dirinya. Hati mereka mampu menangkap vibrasi keberadaan Allah SWT di mana pun berada dan dalam kondisi apapun.

Bila Munadah dari para kelompok al-‘Abidin berada di depan pintu, maka Munajat dari para kelompok al-Wajidin justru telah berada di dalam rumah. Di dalamnya rapalan-rapalan munajat mereka langsung didengarkan dan diperhadapkan dengan Allah SWT.

Kedekatan dengan Allah

Diketahui bahwa sebagian sahabat Nabi Muhammad SAW pernah berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ رَبُّنَا قَرِيبٌ فَنُنَاجِيهِ ؟ أَوْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ»

“Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih ketika berdoa ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara keras?”. Lantas Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas (surah Al-Baqarah ayat 186).

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Fatawa mengatakan bahwa kedekatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedekatan Allah pada orang yang berdoa (kedekatan yang sifatnya khusus).” Dalam hadits tersebut juga disebutkan juga dua kata yang tengah dibahas dalam artikel ini yakni apa yang dimaksud dengan Munadah dan Munajah.

Perlu diketahui dalam Tafsir al-Sa’di dikatakan bahwa kedekatan terhadap Allah SWT itu ada dua macam. Pertama kedekatan Allah SWT yang umum dengan ilmu-Nya, ini berlaku bagi setiap makhluk-Nya. Kedua adalah kedekatan Allah yang khusus pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdoa pada-Nya, yaitu Allah akan mengabulkan doanya, menolongnya dan memberi taufik padanya.

Kedekatan Allah pada orang yang berdoa adalah kedekatan yang khusus –pada macam yang kedua- (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah begitu dekat pada orang yang berdoa dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika ia sujud. (Majmu’ah Al-Fatawa, 15:17)

Taman Seribu Doa

Dari sini kita akan belajar lebih mesra atas apa yang dimaksud dengan doa. Ibadah permohonan ini adalah manifestasi dari tingkat Munadah dan Munajat.  Namun yang perlu diperhatikan lebih awal dalam bahasan ini adalah bahwa para sufi lebih banyak memesrai dirinya tatkala memanjatkan doa, mereka tidak berorientasi gelap pada hasil.

Doa adalah sarana para sufi berkomunikasi tentang segala hal pada Tuhan. Baik itu yang bersifat permintaan, pujian atau pengakuan dosa.

Annemarie Schimmel mengatakan bahwa para sufi mengetahui bahwa doa dalam makna permohonan adalah hak khusus manusia. Pada umumnya sufi moderat memiliki pemahaman yang sama bahwa tidak setiap doa dikabulkan oleh Allah SWT. Tidak dikabulkannya doa oleh Tuhan menurut Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani sejatinya membawa manfaat tersendiri pada hamba. Di mana mereka tengah larut dalam pusaran khauf dan raja yang menjadi dambaan jalan para mistikus. Meskipun demikian Sang Sulthan Auliya’ tersebut juga mengatakan bahwa doa yang tidak dikabul tetap tercatat sebagai kebaikan di Lauh Mahfuzh.

Lebih lanjut Annemarie Schimmel mengatakan bahwa doa seorang sufi sejati adalah doa yang mencerminkan keimanannya kepada Allah SWT., cinta dan kerinduannya. Pada titik permohonan paling puncak, para sufi tidak lagi meminta dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka, tapi meminta untuk bisa bertemu dengan Allah SWT. Sebuah permohonan indah yang tak dapat ditandingi oleh kecantikan mana pun di sepanjang sejarah para hamba.

 

 

Related posts