Tips Semangat Belajar Bahasa Arab

banner 468x60

Belajar bahasa Arab dianalogikan seperti prajurit yang hendak berperang di medan pertempuran. Dibutuhkan berbagai persiapan, meliputi persiapan jiwa maupun raga. Setuju atau tidak terhadap analogi ini, penulis berasumsi belajar bahasa Arab dibutuhkan kesungguhan seperti ungkapan yang familier “man jadda wajada”- barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Sebuah kesungguhan yang disinergikan dengan sikap konsistensi dalam belajar.

Pun dalam belajar bahasa Arab dibutuhkan berbagai perlengkapan, salah satunya adalah maraji’ atau rujukan. Salah satu rujukan yang direkomendasikan penulis adalah membaca buku yang berjudul “miatu suālin ‘an lughah al-‘arabiyyah”. Buku yang dirilis oleh “King Abdullah bin Abdul Aziz Center” pada tahun 2015 ini menyuguhkan informasi seputar bahasa Arab. Sajian materi yang terdapat dalam buku ini berupa “al-suāl wa al-jawāb” (pertanyaan dan jawaban). Adapun jajaran kontributor dalam penyusunan dalam buku ini adalah: 1) Prof. Dr. Mahmud Isma’il Shalih. 2) Dr. Abu Bakar ‘Abdullah ‘Ali Syu’aib. 3) Dr. Shalih bin Hamdi Suhaibani. 4) Dr. Shalih bin Fahd Al-‘Ushaimi. 5) Dr. Aqil bin Hamid Asy-Syamri. 6) Dr. Ali ’Abdul  Muhsin Al-Hudaibi. 7) Dr. Isa bin ‘Audah Al- Syuryufi. 8) Dr. Muhammad  ‘Abdul Khaliq Muhammad Fadhl. 9)Dr. Mahmud bin ‘Abdullah Al-Mahmud. 10) Dr. Hidayah Hidayah Ibrahim Al-Syaikh ‘Ali.

Read More

Kehadiran buku ini seolah menjawab beberapa kegalauan pembelajar bahasa Arab seperti yang dirangkum oleh penulis sebagai berikut:.

Pertama, “Jika seseorang memiliki minat untuk belajar bahasa Arab, baiknya dimulai dari mana?”.

Terkadang sebagai pembelajar bahasa terlintas dalam pikiran kita-apa poin mendasar yang harus kita kuasai terlebih dahulu. Buku ini dengan lugas memberi jawaban “Bahasa merupakan satuan yang integral, setiap unsur bahasa yang meliputi (ashwāt, mufradāt, tarākib) saling bersinergi dengan skill/mahārah (istimā’, kalām, qirāah, kitābah). Oleh sebab itu jika pembelajar bahasa hanya mempelajari unsur atau satu kemampuan saja maka pembelajarannya kurang efektif. Bagi pembelajar bahasa “pemula” baiknya belajar ungkapan sederhana contohnya “Tahiyyah” atau greeting melalui proses kemahiran mendengar, kemudian dilanjutkn dengan praktek berbicara-membaca dan yang terakhir adalah menulisnya. Apabila pembelajar melakukan hal tersebut, maka pembelajar akan memeroleh pemahaman yang runtut perihal bahasa.

Kedua, “Apakah mungkin belajar bahasa Arab mandiri tanpa adanya guru?”.

Pertanyaan ini agaknya menggelitik penulis, jika kita flash back perjalanan belajar bahasa Arab yang ditekuni mulai tingkat sekolah dasar misalnya sampai jenjang perguruan tinggi berapa guru yang sudah membersamai kita dalam belajar?. Namun, tidak dipungkiri di luar sana pasti ada pembelajar bahasa Arab tanpa adanya guru-bisa jadi mereka mengandalkan sistem otodidak 100%. Pada dasarnya “ta’allum al-dzātiy” sangat mungkin dilakukan oleh pembelajar bahasa, baik sebagai porsi utama atau pelengkap.

Menurut hemat penulis belajar mandiri merupakan faktor pendukung utama, jika hanya mengandalkan waktu tatap muka dengan guru saja tidak akan maksimal. Namun, bimbingan guru tidak bisa dilepaskan 100%. Guru yang dimaksud tentu saja guru yang kompeten dan memiliki kapabilitas dalam pembelajaran bahasa Arab). Oleh karena itu, belajar bahasa secara mandiri merupakan fokus utama mencapai kesuksesan. Lantas bagaimana caranya belajar bahasa mandiri? “Cukup bermodalkan komitmen untuk konsisten untuk meluangkan waktu setiap hari, didukung dengan berbagai perlengkapan belajar seperti berbagai macam materi yang memang didesain untuk tujuan “ta’allum al-dzātiy”.

Ketiga, tidak ketinggalan pula dalam buku ini dipaparkan tips mudah belajar bahasa Arab yang mungkin bisa menjadi alternatif dalam proses pembelajaran. Berikut tips mudah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten.

Banyak meluangkan waktu untuk menyimak berbagai sumber pembelajaran bahasa Arab misalnya yang bersumber dari radio, televisi, internet, atau Youtube. Alternatif tambahan dari penulis, bisa juga menyimak podcast berbahasa Arab yang banyak berseliweran di aplikasi Anchor, Spotifiy. Poin terpenting adalah menyimak dan terus menyimak secara rutin meskipun terdapat beberapa kata yang belum diketahui, sebab dengan seringnya menyimak telinga kita akan familier dengan kata, kaliamat, ataupun pola kalimat dalam bahasa Arab.

Banyak bergumul dengan native speaker untuk mengasah kemampuan berbicara, dengan syarat “tidak sariawan” alias membungkam mulut. Kalaupun merasa kesulitan bertemu langsung dengan native, kita bisa praktek dengan teman sejawat atau berbiacara sendiri di hadapan cermin. Sebab poin terpenting adalah praktek berbiacara dan pembiasaan.

Membaca headline di surat kabar berbahasa Arab, kemudian mencatat maknanya. Zaman sekarang kita dimudahkan dengan surat kabar online yang bisa dijumpai di situs internet atau di laman sosial media.

Minimal belajar dua kosakata baru setiap hari. Tambahan dari penulis, untuk mendapatkan dua kosakata baru ini bisa diperoleh dnegan cara membaca di laman sosial media misalnya Twitter, Facebook, Instagram, atau lainnya. Pastinya di sana banyak dijumpai laman berbahasa Arab, tinggal menyesuaikan minat topik kita yang mana.

Prinsip belajar bahasa dasar adalah pelajari yang mudah, dan tinggalkan yang sulit untuk sementara waktu sembari melangkah ke level selanjutnya.

Poin terpenting adalah komitemen untuk pembiasaan berlatih setiap hari dan jangan pernah menyerah!.

Related posts