Titik Akhir Kemakhlukan al-Qur’an

Kota Baghdad
Kota Baghdad

Titik Akhir Kemakhlukan al-Qur’an. Di pentas sejarah muslim ada episode hitam tentang persekusi para ulama. Machasin menyebutnya dengan perselingkuhan intelektual. Sebuah fase di mana para teolog Mu’tazilah berhasil memprovokasi penguasa Abbasiyah untuk melakukan interogasi keimanan para ulama.

Instrumen yang mereka pakai adalah sebuah pertanyaan adakah al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk. Beberapa intelektual muslim tersohor yang terkena sasar di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal (780 – 855 M), Yahya bin Ma’in (158 – 233 H), Ibnu Nuh  dan lain-lain.

Read More

Apa yang terjadi dalam periode ini kerap dikenal dengan nama mihnah. Kata mihnah sendiri diambil dari akar kata mahana, yahmanu, mahnan yang memiliki arti cobaan, menguji atau memeriksa Mihnah ini kerap dikaitkan dengan gerakan purifikatif (bahkan skisme) yang dilakukan oleh kelompok Mu’tazilah. Tidak ada derajat mihnah paling mengerikan dalam bentangan sejarah Islam selain yang dilakukan oleh mereka.

Mihnah ini berlangsung nyaris selama tiga masa jabatan pemangku kekhilafahan Abbasiyah. Yakni dimulai pada era khalifah al-Ma’mun yang bersekutu dengan pimpinan mereka, Ahmad Abi Du’ad (777 – 854 M), dilanjut dengan era Khalifah al-Mu’tashim dan berhenti pada era al-Watsiq.

Kesadaran Sang Khalifah

Titik Akhir Kemakhlukan al-Qur’an. Episentrum surut kebijakan hukuman bagi para ulama yang tidak mengakui kemakhlukan al-Qur’an terjadi pada era al-Watsiq. Abd al-Aziz bin Nashir al-Julail mengetengahkan riwayat yang sangat menarik perihal tersebut.

Khalifah al-Muhtadi Billah yang merupakan putra dari Khalifah al-Watsiq Billah mengetengahkan kisah yang menarik perihal itu. Ia mengatakan bahwa ada seorang Syaikh yang sudah berwarna putih rambutnya dengan keadaan terikat didatangkan kepada Khalifah al-Watsiq.

Syaikh tersebut akan dieksekusi mati oleh Istana karena menolak paham kemakhlukan al-Qur’an. Terjadi percakapan yang menarik dalam momen ini antara Syaikh dengan Khalifah al-Watsiq dan Ibnu Abi Du’ad.

“Assalamu ‘alaik yaa Amiir al-Mu’minin”, Sapa Sang Syaikh kala dihadapkan pada Khalifah al-Watsiq.

“Tidak ada keselamatan Allah bagimu!”, Jawab ketus Khalifah.

“Buruk sekali apa yang diajarkan oleh pengajar anda!”, sergah Syaikh yang melengkapi komentarnya dengan Surat al-Nisa ayat 86 tentang penghormatan salam.

Baca juga: Teladan Sang Kaisar dan Filosof

Perdebatan Berlangsung

Di tengah situasi yang mulai memanas tersebut, masuklah Ibnu Abi Du’ad ke dalam tengah-tengah pembicaraan. “Orang ini adalah ahli kalam”, bilang Ibnu Abi Du’ad kepada Khalifah. Lalu Khalifah al-Watsiq memintanya untuk melanjutkan introgasi kepada Syaikh berambut putih tersebut.

Ketika Ibnu Abi Du’ad menanyakan pendapat Syaikh tersebut tentang al-Qur’an, justru Syaikh-lah yang balik menanyakan bagaimana pendapat Ibnu Abi Du’ad tentang al-Qur’an.

“Apa pendapatmu tentang al-Qur’an?”, tanya Syaikh.

Kemudian Ibnu Abi Du’ad dengan singkat menjawab, “Makhluk!”.

“Apakah ini adalah sesuatu yang telah diajarkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar dan Khulafa al-Rasyidin atau sesuatu uang justru tidak dijarkan?”, Tanya Syaikh.

Mendengar pertanyaan yang menusuk tajam dari Syaikh, Ibnu Abi Du’ad langsung mengatakan bahwa hal tersebut menjadi sesuatu yang belum diajarkan.

“Subhanallah!, sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi dan para sahabatnya tapi engkau bisa lebih tahu dari keduanya?!”. Jawab Syaikh berambut putih sambil dengan nada yang membuat lawannya tidak enak.

Berada dalam situasi yang terdesak, Ibnu Abi Du’ad kemudian meminta izin kepada Syaikh untuk meralatnya. Pun dalam situasi tersebut Khalifah al-Watsiq masih masih terus mengamati perdebatan tersebut. Ibnu Abi Du’ad mengatakan bahwa pandangan ke-makhluq-an  al-Qur’an tersebut adalah sesuatu yang diketahui oleh Nabi dan para sahabatnya.

“Baiklah”, Mulai Sang Syaikh menata Hujjahnya, “Kamu bilang bahwa mereka (para sahabat Nabi) mengetahuinya, tapi kenapa mereka tidak pernah sama sekali mendakwahkan pemikiran tersebut kepada kaum muslimin?!”.

Putusan Sang Khalifah

Khalifah al-Watsiq sudah memegang siapa pemenang debat yang terjadi di hadapannya. Ia kemudian masuk ke dalam majelis dan menegaskan bahwa sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali (Khulafa al-Rasyidin) tapi kamu bisa tahu?!, dan mereka (Nabi beserta para sahabatnya) juga tidak mendakwahkan hal tersebut?!.

Khalifah memutuskan bahwa Sang Syaikh dipersilakan untuk pulang dan membekalinya empat ratus dinar. Sedangkan marwah seorang Ketua Mahkamah Agung Ibnu Abi Du’ad telah tersungkur di mata sang Khalifah. Dikatakan bahwa tidak ada Mihnah lagi setelah kejadian tersebut.

Ada banyak ulama yang dipersekusi dari kejadian kelam fitnah Mu’tazilah ini. Sebuah iklim intelektual yang amat buruk manakala doktrin keagamaan dibuat sangat baku dan diadopsi oleh Negara dengan sangat kaku. Hasilnya adalah tidak sedikit kaum intelektual yang mendapat intimidasi dan panorama keilmuan menjadi terkungkung dalam gerak pengembangannya.

Baca juga: Pelecehan Agama dan Interaksi dengan Non Muslim

Related posts