Tradisi Masyarakat Muslim di Tataran Sunda: Budaya Tahlilan

Tradisi Masyarakat Muslim di Tataran Sunda: Budaya Tahlilan
banner 468x60

Islam rahmatan lil `alamin

Islam merupakan agama rahmatan lil `alamin yang membawa kedamaian. Dalam menyebarkan ajarannya, metode dakwah yang dilakukan tidak terlepas dari budaya lokal masyarakat tersebut. Sehingga antara Islam dan budaya lokal pada suatu daerah tidak bisa dipisahkan, keduanya merupakan bagian yang saling mendukung. Karenanya, kehadiran Islam mudah diterima oleh masyarakat di suatu daerah. Termasuk ketika Islam mulai disebarkan di Tatar Sunda oleh Sunan Gunung Djati, pendiri kesultanan Cirebon sekaligus juga salah satu Wali Sanga.

Ketika itu, masyarakat sunda telah memiliki kepercayaan yang diwarisi secara turun-temurun dari para leluhurnya. Warisan tersebut datang dari kepercayaan lokal yang merupakan akulturasi budaya Hindu-Budha dengan agama Islam. Dalam dakwahnya, para ulama menyiarkan agama Islam tidak dengan memberantas atau menghilangkan budaya yang melekat di suatu wilayah, tetapi mengalihkan dari ritual yang diterapkan oleh nenek moyang mereka menjadi budaya yang bemafaskan Islam, sehingga tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Apa Itu Tahlilah?

Tahlilan adalah salah satu budaya masyarakat muslim yang merupakan pengambilan dan pembauran dengan budaya agama lain. Tahlilan biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Pada mulanya, tahlilan merupakan tradisi bangsa Indonesia yang menganut kepercayaan animisme, sebelum datangnya agama Hindu, Budha dan Islam. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk terhindar dari marahnya ruh orang yang baru saja meninggal. Maka mereka mengadakan upacara-upacara sesaji, seperti membakar kemenyan, dan sesaji kepada yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, membaca mantera-mantera atau sekedar berkumpul-kumpul. Mereka mempercayai ketika melakukan upacara tersebut, maka ruh orang yang baru saja meninggal tidak akan marah dan mengganggu keluarganya.

Merubah tradisi

Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh para ulama, yang dikenal dengan Wali Songo perlahan mulai mengganti isi tradisi tersebut sesuai dengan syari’at Islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk-pauk untuk sedekah. Mantera-mantera diganti dengan dzikir, doa dan bacaan-bacaan Al Qur’an. Upacara seperti ini kemudian dinamakan tahlilan yang merupakan budaya sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia dan hingga sekarang masih terpelihara, khususnya di daerah tatar sunda. Dalam catatan sejarah Islam, ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah SAW, di masa para sahabatnya dan para Tabi’in maupun Tabi’ al-Tabi’in. Melainkan, tahlilan murni sebagai budaya yang berasal dari upacara peribadatan nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Buddha.

Di daerah Sunda, masyarakat muslim melaksanakan tahlilan di malam hari, biasanya setelah waktu isya. Ketika salah seorang anggota keluarga meninggal, maka secara spontan para tetangga, kerabat dan teman-teman si mayit akan mendatangi kediaman keluarga mayit di malam hari untuk melaksanakan tahlilan. Anggota keluarga mayit akan bahu-membahu membuat makanan untuk disajikan setelah masyarakat membaca zikir-zikir, ayat suci Al-Qur’an dan mendo`kan mayit juga keluarga yang ditinggalkan. Ada juga makanan yang disiapkan untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing setelah tahlilan selesai. Sebagian masyarakat muslim melaksanakan tahlil pada hari ke-7, ke-40, ke-100, atau ke-1000 dihitung sejak hari kematian si mayit. Tradisi ini ada di Tatar Sunda dan merupakan tradisi turun temurun yang diwarnai dengan budaya Islam.

Menjadi Tradisi

Seiring berjalannya waktu, beberapa masyarakat sunda menjadikan tahlilan sebagai hal yang wajib. Bahkan penyajian makanan menjadi hal yang harus ada pada budaya tahlilan. Karenanya, sering kali masyarakat yang datang untuk tahlilan tetapi tidak khusyuk dalam berdo’a dan berzikir. Tujuan tahlilan yang awalnya hanya mendoakan almarhum(ah), menjadi upacara kirim pahala untuk orang yang meninggal. Hal ini perlu diluruskan secara perlahan agar budaya tahlilan tidak jadi hal yang menyinpang. Apalagi jika budaya tahlilan justru memberatkan pihak keluarga yang ditinggal, karena harus memberi makan, uang, dan lain-lain. Tetapi, tidak sedikit juga hikmah yang bisa diambil dari budaya tahlilan antara lain, sebagai bentuk silaturrahim antar sesama kerabat, tetangga dan umat muslim, sebagai pengingat bagi kita bahwa akhir dari kehidupan dunia ini adalah kematian, yang setiap jiwa pasti akan melewatinya, juga sebagai penenang hati bagi keluarga almarhum(ah) yang sedang dirundung duka.

Referensi Lain silahkan klik link di bawah

Klik disini

klik disini

klik disini

About Post Author

Pos terkait