Tujuh Abad Kitab Jurumiyyah Karya Ibnu Ajurrumi di Indonesia

Kitab Jurumiyyah yang ditulis oleh Ibnu Ajurrumi adalah kitab nahwu dengan usia cukup tua yang masih banyak diajarkan dan dikaji di Indonesia, utamanya oleh kaum pesantren. Kitab ini mayoritas menjadi kitab dasar yang dikaji bila santri mulai belajar ilmu nahwu. Beberapa ulama ada yang menggubah matan kitab ini menjadi kumpulan syair-syair dengan tujuan untuk lebih mudah dihafal.

Sependek yang penulis tahu, kitab ini juga laris diteliti oleh para akademisi di kampus. Banyak para sarjana, magister sampai doktor yang lulus karena “syafaat” dari kitab ini. Selalu saja ada topik yang dikaji dari kitab ini. Sebut saja mislanya meneliti pola sistematikanya, melihat historisitasnya sampai mengkomparasikannya dengan kitab-kitab nahwu yang lain.

Read More

Kitab ini memiliki sistematika yang sangat unik dengan materi yang sangat padat dan singkat. Ada 24 bab yang terbagi ke dalam I’rab, Af’al, Marfu’at al-Asma, Manshubat al-Asma dan Makhfudhat al-Asma. Namun sebelum masuk ke seluruh bab tersebut Imam al-Shanhaji selaku pengarang dari kitab ini lebih dahulu menjelaskan tentang Kalam

Konon tatkala selesai menulis kitab ini, Ibnu Ajurrumi berdoa kepada Allah SWT memohon petunjuk perihal kebaikannya. Ia berkeyakinan bila naskah-naskah ini tidak mendulang manfaat maka akan basah dan hancur tatkala ditenggelamkan di air, namun bila kitab tersebut akan berbuah manfaat yang banyak maka dia tidak  akan rusak digulung air.

Dan ternyata Allah SWT menunjukkan pertandanya, di mana kitab yang ditulis oleh Ibnu Ajurrumi itu tetap utuh meskipun dihanyutkan ke dalam air. Kisah ini pun masyhur dan tumbuh subur dari zaman ke zaman di tengah para pengkaji kitab ini.

Ada cukup banyak karya ulama yang memberikan syarah terhadap kitab ini. Di antaranya adalah Syarah Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad, Syarh al-Makudi al-Nahwi, Syarah Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad al-Maliki, Syarah Khalid bin Abdullah al-Syafi’i al-Azhari, Syarah al-Syalabi dan masih banyak lagi yang lainnya termasuk yang paling populer adalah Syaikh al-Kufrawi.

Beliau adalah al-Imam al-‘Allamah al-Faqih al-Muhaddith al-Nahwi Syeikh Hasan Bin Ali al-Kufrawi al-Syafi. Dilahirkan di wilayah Kufr yang berdekatan dengan kawasan Mahallah al-Kubro di Mesir. Konon di wilayah tersebut jugal Syaikh al-Kufrawi mengkhatamkan hafalan al-Quran dan Matan-matan Ilmu lainnya.

Menginjak dewasa al-Kufrawi berpindah ke Kairo, kota Ilmuan populer di dunia untuk melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar. Di antara guru-gurunya adalah adalah al-Imam al-Allamah Al-Ustadh Muhammad al-Hifni, al-‘Allamah Sayyid Ahmad al-Suja’i, al-‘Allamah Sayyid ‘Ali al-Sha’idi al-Maliki, dan al-Allamah Sayyid Umar al-Tahlawi.

Setelah lulus dari al-Azhar, Syaikh al-Kufrawi membuat halaqah pengajian sendiri. Halaqahnya yang terkenal berada di Masjid Sayyidina Husain yang terletak bersebelahan dengan kampus Al-Azhar. Di antara kitabnya yang terkenal adalah Syarah beliau terhadap Matn Al-Ajrumiah yang lebih dikenal dengan nama Syarah Kufrawi ‘ala Ajrumiah.

Menurut M Zahid Murtadlo setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan mengapa kitab Jurumiyyah ini banyak dikaji di Indonesia dan terus menerus dipelejari sampai saat ini. Pertama adalah dari sisi sanadnya. Di mana sanad kitab ini diwariskan dan tersebar dengan cara mutawatir. Seluruh Kyai di Pesantren yang mengajarkan kitab ini bila dirunut sanadnya akan sampai pada ulama Mekkah Syaikh Ahmad Zaini Dahlan yang menjadi guru para ulamma nusantara.

Faktor kedua adalah karena kualitas pengarangnya. Di mana Ibnu Ajurrumi dikenal pula sebagai sosok sufi dengan keikhlasan tingkat tinggi dalam menyusun dan menulis kitab-kitabnya. Kitab Jurumiyyah menjadi salah satu bukti bahwa kitab yang ditulis dengan hati yang ikhlas dan bersih dari duniawi akan langgeng manfaatnya menembus segala zaman.

Related posts