Tukang Kritik Nahwu Bernama Ibnu Madha

  • Whatsapp
Tukang Kritik Nahwu Bernama Ibnu Madha
Tukang Kritik Nahwu Bernama Ibnu Madha

Nama Lengkapnya

Beliau kerap ditulis dan dipanggil dengan nama Ibnu Madha’. Sedangkan nama lengkapnya adalah Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Saad bin Harits bin Ashim Ibnu Madha’ al-Lakhmi. Sedang dalam literatur yang lain, yakni kitab Nasyaatun nahwi karangan Muhammad Al-Tanthawi disbutkan bahwa nama lengkap Ibnu Madha’ adalah Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman al Lakhmi al Qurthuby. Di antara nama-nama panggilan beliau lain yang terkenal adalah Abu al-Abbas, Abu Ja’far dan Abu Qosim.

Beliau lahir di Cordova pada tahun 512 H dan meninggal di Seville pada 17 Jumadil Ula 592 H. Lahir pada 512 H di Cordova. Pada masa mudanya, beliau banyak melakukan petualangan intelektual ke berbagai wilayah Islam di belahan dunia untuk menimba pengetahuan. Beberapa bidang ilmu yang didalaminya antara lain Nahwu atau tata Bahasa Arab, pengobatan, teologi, geometri dan fiqh.

Bacaan Lainnya

Secara strata sosial, Ibnu Madha termasuk golongan orang-orang yang hidup di dalam lingkungan keluarga yang terhormat dan mampu secara finansial. Hal ini tidak disia-siakan olehnya untuk melakukan berbagai pengembaraan ilmu.

Pengembaraan Intelektual

Demi memenuhi dahaga pengetahuannya, seorang Ibnu Madha’ mula-mula mulai meninggalkan Cordova dan berangkat menuju Seville. Di sana, beliau belajar ilmu nahwu kepada seorang guru bernama Ibn al-Ramak. Dari Ibnu al-Ramak ini Ibnu Madha belajar salah satu magnum opus Imam Sibawaih yang berjudul al-Kitab.

Selanjutnya dari Seville, Ibnu Madha meneruskan rihlahnya menuju Ceuta dengan belajar kepada Qadhi Iyadh untuk mendalami ilmu-ilmu hadits. Sementara dalam diskursus fiqh, Ibnu Madha’ belajar kepada Ibn al-Araby, al-Bathuhy, al-Rasyathi dan Abu Muhammad bin al-Nashif.

Dalam bidang kebahasaan, Ibnu Madha memiliki tiga guru yang sangat terkenal; Ibnu al-Ramak, Abu Bakar bin Sulayman dan Ibnu Basykawal. Saat belajar kepada Abu Bakar bin Sulayman, Ibnu Madha berteman akrab dengan Ibnu Rusyd, keduanya adalah ulama yang hidup pada zaman yang sama. Seorang Abu Bakar bin Sulayman sendiri adalah seorang ilmuan besar yang menjadi referensi dalam Bahasa Arab dan Sastra. Kelak dari hasil-hasil belajar kepada gurunya ini Ibnu Madha memiliki pemikiran Nahwu yang sangat unik bahkan cenderung kontroversial.

Dinasti, Karya dan Kritik

Sepanjang hidupnya Ibnu Madha mengalami dua masa pemerintahan Andalusia, yaitu pemerintahan Dinasti Murabithun dan Dinasti Muwahhidun. Abu Bakar al-Arabiy atau yang juga dikenal dengan nama Ibnu al-Arabiy adalah dan Iyadh bin Musa bin Iyadh al-Qadhi adalah dua nama ulama besar yang hidup pada zaman Dinasti Murabithun. Kepada keduanya Ibnu Madha menimba pengetahuan.

Dalam literatur-literatur khazanah sejarah disebutkan, bahwa Ibnu Madha’ memiliki beberapa kitab yang menjadi karyanya. Buah pemikirahnya yang paling terkenal adalah kitab al-Radd ala al-Nuhat, al-Masyriq fi al-NahwiTanzih al-Qur’an amma la Yaliqu bi al-Bayan dan al-Masyriq fi al-manthiq

Menurut sumber yang lain, Ibnu Madha di samping seorang intelektual dengan berbagai buah karyanya, beliau juga adalah seorang ulama yang tidak lepas dari kegiatan belajar mengajar. Di mana pada sisa akhir hidupnya beliau dedikasikan untuk melakukan transmisi-transmisi pengetahuan pada murid-muridnya.

Adapun perihal kritik dan penolakan yang digencarkan oleh seorang Ibnu Madha terhadap para intelektual nahwu dan tata Bahasa Arab di zamannya, hal tersebut memang merupakan salah satu karakteristik beliau yang pemikirannya masih banyak dipengaruhi oleh aliran teologi az-zahiriyah yang menjadi mazhab resmi Dinasti al-Muwahidun yang menjadi dinastinya.

Pos terkait