Upaya Penjagaan Keimanan dan Ketauhidan Dalam Al-Qur’an

Dalam ajaran Islam, tauhid merupakan pondasi yang harus dimiliki oleh setiap Muslim agar keyakinannya kuat dan kokoh. Islam sendiri adalah agama yang berkeyakinan bahwa Allah ialah Tuhan Yang Maha Esa. Ketauhidan juga menjadi dasar dari ajaran Islam. Apabila, seorang Muslim mempunyai ketauhidan yang kurang kokoh maka dapat mengakibatkan Muslim tersebut terjerumus dalam jurang kesyirikan. Dengan adanya ketauhidan pada diri seseorang, maka akan memunculkan keimanan. Iman juga merupakan unsur penting yang digunakan sebagai pondosi dalam membentuk karakter dan perilaku umat Islam. Ketauhidan dan keimanan seseorang apabila diterapkan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari akan menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, tentram dan damai. Hal ini selaras dengan pernyataan dari Quraish Shihab, inti dari ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an yaitu mengajarkan tentang konsep tauhid kepada umat Islam dengan melalui dua cara pengenalan. Diantaranya, dengan sifat-sifat Tuhan dan perbuatan.

Kata tauhid berasal dari bahasa Arab yaitu wahhada-yuwahhidu-tauhidan yang memiliki arti mengesakan dan menyakini Tuhan Maha Yang Esa. Secara istilah, tauhid berarti menyakini bahwasanya Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah, tidak ada sekutu untuk-Nya. Sedangkan, menurut pernyataan dari tokoh modernisme Islam Muhammad Abduh tauhid merupakan suatu cabang ilmu yang menerangkan tentang wujud, sifat-sifat yang wajib dan sifat mustahil Allah. Tidak ada yang dianggap sebagai tuhan kecuali Allah. Semua ciptaan yang ada disemesta ini merupakan makhluk-Nya. Seperti yang terkandung dalam kalimat syahadat yang pertama, yang berisi pengakuan seorang Muslim bahwasanya tiada tuhan selain Allah.

Iman berarti keyakinan yang dimiliki seseorang terkait agama, Tuhan, nabi, dan kitab suci. Terdapat beberapa pendapat terkait dengan definisi dari iman. Diantaranya, menurut al-Asyariyah iman adalah suatu pembenaran dalam hati yang tidak diperlu direalisasikan. Kemudian, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tauhid merupakan sebuah ittiqad dan amal sebagai bukti dari keimanan. Sedangkan menurut pendapat ulama salaf iman memiliki pengertian sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota tubuh.

Terdapat upaya dalam penjagaan keimanan dan ketauhidan.[i] Antara lain, Pertama, menguatkan ketauhidan kepada Allah. Sebagaimana yang sudah tertera dalam QS. Al-Ikhla>s [112]: 1-4. Menurut Buya Hamka dalam kitab tafsirnya Al-Azhar, beliau menjelaskan bahwasanya ketauhidan adalah landasan utama dalam keimanan seseorang terhadap Allah. Oleh sebab itu, upaya dalam penjagaan seseorang harus menguatkan ketauhidannya terlebih dahulu. Contohnya, seperti percaya akan adanya Allah, menyakini bahwasanya Allah berbeda dengan ciptaan-Nya, selalu meluruskan niat dan menggantungkan segala perbuatan kepada Allah.

Kedua, menyadari tugas utama menjadi manusia tidak lain untuk beribadah kepada Allah Swt. Seperti yang tertera dalam QS. Adz-Dza>riya>t [51]: 56. Menurut Buya Hamka, ayat tersebut menjelaskan bahwasanya ketika seseorang sudah memiliki keimanan, maka seharusnya orang tersebut merealisasikan keimanannya dengan melakukan peribadatan kepada Allah. Hal tersebutlah merupakan tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini. Seperti, melaksanakan sholat lima waktu, puasa, zakat dan lain sebagainya. Dengan melakukan peribadatan tersebut, keimanan seseoran akan meningkat dan terjaga dengan sendirinya.

Ketiga, mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujura>t [49]: 13. Buya Hamka menafsirkan bahwasanya kemulian yang sejati adalah dengan melakukan amal baik dan menghindari amal buruk dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Keimanan dan perbuatan baik adalah dua unsur yang saling mempunyai keterkaitan antara satu sama lain. Karena dengan adanya keimanan yang dibarengi dengan perbuatan baik akan menghasilkan suatu yang dapat seorang hamba peroleh di kehidupan dunia dan akhirat.

Keempat, belajar ilmu agama. Sebagaimana yang tertera dalam QS. al-Muja>dalah [58]: 11. Buya Hamka menafsirkan bahwasanya terdapat cara agar seseorang dapat meningkatkan derajatnya yaitu dengan ilmu dan keimanannya. Oleh karena itu, sebagai bentuk keimanan kepada Allah dan diangkatnya derajat seseorang dapat dilakukan dengan cara menuntut ilmu dan merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu agama merupakan ilmu yang sangat penting untuk dipelajari. Seperti dalam hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ustman b. Affan yang menjelaskan bahwa akan meningkat dan tejaganya suatu keimanan yang diiringi oleh bertambahnya ilmu pengetahuan, terlebih itu ilmu agama. Contohnya, seperti belajar hadis, fiqih, akidah, dan hafalan al-Qur’an.

Sehingga dapat diambil kesimpulan, bahwa terdapat cara dalam upaya untuk meningkatkan dan menjaga keimanan dan ketauhidan seseorang yaitu dengan cara mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita tetap dalam perlindungan-Nya dalam keadaan apapun. Wallahualam bissawab.

[i] Teguh Saputra, “Faktor Meningkatnya Dan Menurunnya Keimanan: Studi Kitab Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka” 2, no. 2 (2022): 9.

Related posts