Wayang dan Sejarah di Nusantara

  • Whatsapp

Wayang merupakan kebudayaan masyarakat Jawa yang telah ada sebelum ajaran Islam berkembang di Nusantara. Wayang telah berkembang pada abad ke 15[1]. Setyo Budi mengatakan bahwa wayang kulit merupakan sebuah kesenian yang menayangkan adegan drama dari bayangan boneka yang terbuat dari kulit binatang, yang berbentuk pipih dan diwarnai serta diberi tongkat agar bisa menjalankannya[2]. Dan didalam dunia pewayangan terdapat seseorang yang dikenal dengan sebutan Dalang dan lakon[3]. Kesenian wayang kulit ini dimanfaatkan sebagai media penyebaran dan dakwah islam, yang telah berkembang pesat serta mengalami berbagai perubahan dari aspek visual, lakon, model, dan aspek pendukung lainnya.

Di sisi lain Wayang kulit merupakan kesenian tradisional rakyat Indonesia yang tetap mampu bertahan dan dapat diakui keberadaannya. Jika melihat sejarah budaya Jawa, wayang kulit sudah berkembang sejak abad ke-15 dan sampai saat ini masih memiliki banyak penggemar-nya, meskipun dari kalangan tertentu. Wayang kulit merupakan bentuk kesenian yang menampilkan adegan drama bayangan boneka yang terbuat dari kulit binatang, yang berbentuk pipih, diwarnai serta diberi tongkat. Yang dimainkan oleh seorang Dalang dengan menyuguhkan cerita-cerita klasik seperti Lakon.

 

Bentuk dan model boneka yang dikenal dengan sebutan wayang yang digunakan untuk acara upacara maupun pagelaran. Dikarenakan nenek moyang masyarakat Indonesia kebanyakan menganut animisme dan dinamisme, mereka mempercayai bahwa setiap benda memiliki manna (kekuatan dan roh), dan oleh karena itu seni pawayangan diwujudkan dalam bentuk arca, patung dan gambar. Yang mana pada setiap bentuk wayang tersebut mempunyai kekuatan yang berbeda dari bentuk muka hingga ukuran wayang nya.

 

Dinamika Perkembangan Wayang

Dari masa ke masa, wayang meng-alami banyak perubahan. Di benua Asia Tenggara sendiri seni pagelaran wayang merupakan bukan hal yang baru. Di wilayah Nusantara sendiri juga memiliki keanekaragaman etnis, tradisi, serta budaya, dan ditemukan berbagai jenis wayang semisal wayang kulit di Pulau Jawa, wayang Narta di Bali, wayang Sasak di Lombok, wayang Banjarmasin, dan lain sebagainya[4]. Munculnya wayang di Nusantara di bagi menjadi 5 periode yaitu sebagi berikut:

Periode Prasejarah

Awalnya pertunjukan wayang itu merupakan bagian dari sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa kuno, yang pada saat itu masih menganut kepercayaan pada kekuatan benda-benda, roh, animisme dan dinamisme. Pada saat itu para pendahulu kita telah membuat alat-alat pemujaan berupa patung sebagai media untuk memanggil arwah nenek moyang yang dinamakan Hyang. Hyang diyakini dapat memberikan kekuatan, pertolongan dan perlindungan, Namun ada kalanya bisa menghukum dan mencelakakan mereka[5].

Periode Hindu-Budha

Tradisi penciptaan adanya wayang dari kebudayaan prasejarah muncul kembali dalam relief candi, arca dan patung pada zaman ini. Hal ini merupakan hasil akulturasi budaya antara pandangan nenek moyang terhadap pemujaan roh dengan pemujaan hindu terhadap dewa-dewa yang ada dalam agama Hindu. Cerita wayang awalnya menggambarkan tokoh para leluhur, legenda kepala suku, atau nenek moyang lambat laun hilang, berganti dengan cerita dewa-dewa Hindu yang biasa kita dengar dan berasal dari dataran India yaitu tentang Ramayana dan Mahabharata.

Periode Islam

Di periode ini, wayang mengalami perubahan dan perkembangan yang mendasar, sehingga dalam beberapa bentuk dapat kita ketahui seperti saat ini. Karya dari para wali dalam menyempurnakan bentuk muka yang semula wajah tampak dari depan diubah menjadi tampak dari samping, warna wayang yang semula hanya putih dan hitam, dikembangkan lagi menjadi berwarna-warni, tangan-tangan raksasa yang semula menyatu dengan tubuhnya dibuat lengan tangan  yang dapat digerakkan, selain itu juga menambahkan keanekaragaman macam wayang[6].

Periode Kolonial Belanda

Sebagai seni pertunjukan atau pagelaran wayang masih berkembang pada zaman kolonial, terutama ketika pemerintahan Mataram II dibawah Raja Amangkurat II (1680) dengan bantuan Belanda yang memindahkan ibukotanya dari Pleret ke Kartasura. Pada saat itu  bentuk wayang mulai mengalami perubahan dan disempurnakan. Pada periode ini pertunjukan wayang kulit telah menggunakan iringan gamelan dan tembang yang dibawakan oleh sinden, dan nayaga. Namun pertunjukan wayang pada saat itu tidak berfungsi sebagai upacara agama, akan tetapi telah menjadi kesenian klasik tradisional dan hanya sebagian kecil masyarakat yang masih mempergelarkan untuk upacara agama[7].

Periode Pascakemerdekaan

Setelah melewati masa kemerdekaan Indonesia, banyak bermunculnya model serta bentuk wayang dengan kreasi baru, termasuk jenis macam ceritanya dan tujuan pementasannya. Pada periode ini pertunjukan wayang juga merupakan suatu bentuk kesenian, dan bukan lagi sebagai acara keagamaan atau acara ritual. Wayang memiliki fungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, komunikasi massa, kesenian, sastra, filsafat dan agama. Pada periode ini salah satu jenis wayang yang muncul adalah wayang Suluh Pancasila yang diciptakan pada tahun 1947 di Madiun. Wayang ini mengisahkan tentang kondisi politik pada masa itu. Pertunjukan wayang disetiap daerah memiliki teknik, model dan gayanya sendiri. Dengan demikian wayang Indonesia merupakan seni yang diciptakan oleh masyarakat Indonesai asli yang memiliki cerita, gaya dan Dalang  yang luar biasa, sehingga mampu memainkan kesenian wayang dengan baik.

Namun, tidak banyak hasil kreatifitas generasi penerus dari para dalang yang telah melakukan pengembangan di era modern saat ini. Dimana tujuan utama dari pengembangan tersebut untuk melestarikan tradisi kearifan lokal atau budaya yang menjadi warisan sejarah.

Wayang dalam perspektif Islam di Nusantara dipahami sebagai pengembangan wayang yang dijadikan sebagai sarana dan media dalam proses Islamisasi yang dilakukan oleh penyebar Islam di tanah Jawa dan Nusantara. Salah satunya adalah Sunan kalijaga[8], tokoh yang banyak mengembangkan budaya lokal yang berkembang dan disegani banyak masyarakat yang disajikan dengan ajaran Islam sebagai bentuk dakwahnya.

[1] Sena Wangi, Ensiklopedia Wayang Indonesia, Jilid VI, (Jakarta: Seni Wangi, 1999), 1648-1653.

[2] Setyo Budi, Wayang-wayang Katolik: Spesifikasi dan Karakteristiknya, (Bandung: Proyek Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Nasional, 2002), 2.

[3] Sri Mulyono, Wayang, Asal usul Filosofis dan Masa Depannya, (Jakarta: Haji Masagung, 1975), 87.

[4] Moh. Isa Pramana Koesoemadinata, “Wayang Kulit Cirebon: Warisan Diplomasi Seni Budaya Nusantara”, ITB J. Vis. Art & Des., Vol. 4, No. 2, (2013), 144.

[5] Koenjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, (Jakarta: Dian Rakyat, 1992), 253.

[6] R. Sutrisno, Sekilas Dunia Wayang dan Sejarahnya, (Surakarta: SKI, 1983), 40.

[7] Sri Mulyono,. 87.

[8] Sunyoto, Atlas Walisanga, Cet-ke 4, (Depok: Pustaka Iman, 2012), 209-228.

Pos terkait