Zharaf, Raga Wadah dari Rahasia – Rahasia Tuhan

  • Whatsapp

Zharaf dalam gramatika nahwu ada dua macam, yakni zharaf zaman dan zharaf makan. Dalam tata bahasa Indonesia kita mengenal istilah tersebut dengan kata keterangan waktu (zharaf zaman) dan kata keterangan tempat (zharaf makan). Baik zharaf zaman ataupun zharaf makan keduanya sama-sama mengandung kata sambung di atau pada.

Yang termasuk dalam kategori zharaf zaman (kata keterangan waktu) di antaranya adalah besok, malam hari, hari ini, pagi, sore, dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk dalam kategori zharaf makan (kata keterangan tempat) di antaranya adalah di depan, di belakang, di samping dan lain-lain.

Bacaan Lainnya

Dalam liturgi tasawuf, Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin mengartikan zharaf dengan raga atau wadah dari rahasia-rahasia Tuhan. Hal ini sejatinya mengajarkan bahwa di dunia ini ada banyak rahasia-rahasia Tuhan yang tersimpan dan bersemayam dalam berbagai wujud benda-benda.

Seorang Sufi terkenal bernama Sahl al-Tustari mengatakan bahwa janganlah kita terlalu memperhatikan raga atau wadah, namun hendaknya kita menceburkan diri dalam lautan maknawi agar sampai pada titik di mana kita mampu melihat-Nya. Sufi yang lahir di daerah Tustar ini adalah murid dari Imam Sufyan al-Tsauri dan pernah berhubungan dengan Dzun Nun al-Mishri. Beberapa tokoh pengkaji mistisisme Islam dari Barat seperti Annemarie Schimmel juga banyak menulis tentangnya.

Lebih lanjut Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin mengatakan bahwa seluruh semesta ini seperti balokan es. Di mana luarnya tampak terlihat padat dan keras namun di dalamnya ada air yang cair. Demikian juga seluruh realitas yang ada di sekitar kita yang mana semuanya tampak keras seperti es, namun di dalamnya terselip lathifah-lathifah Tuhan yang begitu lembut.

Hal senada dikatakan oleh Syaikh Abd al-Karim al-Jilli salah seorang sufi yang terkenal dengan Insan Kamil-nya. Al-Jilli mengatakan bahwa wujud-wujud yang terbentang di semesta raya itu laksana bekuan es. Kita adalah pancaran-pancaran air yang berada di dalamnya. Menariknya adalah baik Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin maupun Syaikh Abd al-Karim al-Jilli keduanya memakai media bekuan es atau salju sebagai ilustrasi teori sufismenya.

Syaikh al-Quthb Ibn Masyisy r.a. sekali waktu pernah berkata kepada pewarisnya yang bernama Abu al-Hasan. Ibn Masyisy menasihati Abu al-Hasan untuk menajamkan mata batin (‘ain al-bashirah)-nya. Sebab dengan mata batin yang tajam ia mampu menemukan Tuhan dalam segala sesuatu, menemukan Tuhan tatkala berada dalam segala hal, menemukan Tuhan bersama segalanya, menemukan Tuhan sebelum segala sesuatu, menemukan Tuhan setelah segala sasuatu, menemukan Tuhan setelah segala sesuatu, menemukan Tuhan di atas segalanya, menemukan Tuhan di bawah segalanya, merasakan kedekatan-Nya dari segala sesuatu dan menemukan-Nya meliputi segala-galanya.

‘Ain al-Bashirah adalah istilah teknis dalam sufistik yang menunjuk pada mata batin dengan fungsi melihat atau menyaksikan al-Haqq. Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari pernah mengatakan bahwa ‘ain al-bashirah dalam diri sesorang bisa hidup menuntun pada kebenaran namun juga bisa saja lenyap. Dalam kitab al-Hikam dikatakan bahwa tanda-tanda lenyapnya ‘ain al-bashirah adalah kesungguhan yang berlebih dari seseorang untuk mendapat apa-apa yang menjadi miliknya dan lalai terhadap segala sesuatu yang Allah tuntut dari hamba-Nya.

Selanjutnya Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin juga mengatakan bahwa kedekatan dengan Tuhan yang dimaksud adalah sifat-sifat-Nya yang mulia yang termanifestasi dalam laku setiap hamba. Sedangkan maksud dengan Ihathah (meliputi) adalah karakter-Nya yang tergurat pada makhluk-makhluk-Nya.

Kedekatan dengan Tuhan (Qurb) itu memiliki tingkatan-tingkatannya kata Ayatullah Syaikh Muhammad Taqi Behjat. Tingkatan yang paling tinggi dari kesemuanya adalah perjumpaan dengan Tuhan (liqaullah). Setiap tingkat-tingkat kedekatan itu ada muqarribiy (yang mendekatkan)-nya yakni shalat. Oleh karenanya figur yang ahli irfan, zuhud dan takwa ini dikenang oleh masyarakat luas dengan rintih tangisnya dalam mendirikan shalat.

Syaikh Yusuf al-Qardhawiy dalam salah satu kesempatan menyampaikan bahwa amalan-amalan fardhu seorang hamba adalah untuk menyambungkannya dengan maqam qurb pada Tuhan. Sedangkan ibadah nawafil atau ibadah sunnah adalah untuk menaikkan seorang hamba pada maqam al-hubb. Artinya setiap hamba yang menunaikan ibadah fardhu seperi shalat maka itu bisa semakin membuat hamba terebut dekat dengan Tuhan. Sedangkan setiap hamba yang melengkapi ibadah fardhunya dengan amalan sunnah maka ia akan beroleh kecintaan dari Allah SWT.

Pos terkait